DETECTIVE AND MAFIA
Silakan mendaftar atau masuk untuk mengakses forum Detective and Mafia.


-Terima Kasih-

DETECTIVE AND MAFIA

Mens Vincit Omnia
 
IndeksIndexGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Selamat datang di forum Detective and Mafia, silakan perkenalkan diri
di Perkenalan member baru agar resmi menjadi member Detective and Mafia
Selamat datang di DAM
Silakan baca petunjuk, peraturan dan tata cara bermain forum
Di sini sebelum melakukan aktivitas di forum

Share | .
 

 Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.12)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Cherrémio Chii

Newbie
Newbie


Female
Age : 20
Reputation : 5
Jumlah posting : 265

PostSubyek: Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.12)   Mon Mar 28, 2011 3:35 pm

12. MATA RANTAI TERAKHIR

KEPERGIAN Poirot yang tiba-tiba itu membuat kami semakin ingin tahu, Minggu
pagi telah tiba—tapi Poirot belum muncul juga. Tetapi kira-kira pukul tiga siang,
kami mendengar suara ribut di luar. Ternyata Poirot keluar dari mobil diikuti oleh
Japp dan Summerhaye. Laki-laki kecil itu sama sekali berubah. Wajahnya bersinar
dengan rasa puas. Dia membungkuk berlebihan di depan Mary Cavendish.
"Nyonya, apakah saya diperbolehkan mengada¬kan pertemuan di ruang keluarga?
Setiap orang perlu hadir di sana."
Mary tersenyum sedih.
"Anda tahu bukan, Tuan Poirot, bahwa kami memberi keleluasaan penuh pada Anda
untuk melakukan apa saja?"
"Anda sangat baik, Nyonya."
Dengan wajah masih berseri, Poirot menggiring kami masuk ke ruang keluarga,
sambil mengatur kursi untuk kami.
"Nona Howard—di sini. Nona Cynthia. Tuan Lawrence. Dorcas. Dan Annie. Bien \
Kita harus menunda acara sebentar untuk menunggu Tuan Inglethorp. Saya sudah
mengirim surat agar dia datang."
Nona Howard segera berdiri dari kursinya. "Kalau orang itu masuk rumah ini, saya
akan keluar!"
"Tidak, tidak!" Poirot mendekati dia dan membujuk dengan suara rendah.
Akhirnya Nona Howard kembali ke kursinya. Beberapa menit kemudian Alfred
Inglethorp masuk.
Setelah semua berkumpul, Poirot berdiri dari kursinya dengan sikap seorang
penceramah populer. Dia membungkuk dengan sopan kepada para pendengarnya.
"Messieurs, Mesdames, seperti Anda ketahui, saya datang ke rumah ini karena
diminta oleh Tuan John Cavendish untuk menyelidiki kejadian tragis ini. Yang
pertama-tama saya lakukan adalah memeriksa kamar Almarhumah yang terkunci
rapat dan dalam keadaan sama seperti ketika tragedi itu terjadi. Saya menemukan:
satu, sepotong kain berwarna hijau. Dua, bekas kotoran di karpet dekat jendela. Tiga,
sebuah dos kosong bekas bubuk bromide.
"Kita bicarakan potongan kain hijau dulu. Saya menemukannya tersangkut di
gerendel pintu yang menghubungkan kamar Almarhumah dengan kamar Nona
Cynthia. Saya menyerahkan potong¬an tersebut pada polisi tapi mereka tidak
menganggap itu penting. Rupanya mereka juga tidak tahu asal potongan tersebut,
yang sebenarnya adalah sobekan ban lengan dari baju kerja."
Terdengar gumam para pendengar.
"Hanya ada satu orang yang bekerja di pertanian ini—yaitu Nyonya Cavendish.
Karena itu pasti Nyonya Cavendish yang masuk ke dalam kamar Almarhumah
melalui pintu penghubung ter¬sebut."
"Tapi pintu itu digerendel dari dalam!" seru saya.
"Ketika saya memeriksa kamar tersebut, memang begitu. Tapi sebelumnya kita hanya
percaya pada perkataannya saja, karena dialah yang mencoba membuka pintu itu dan
mengata¬kannya terkunci. Pada waktu semuanya kalang-kabut dia pasti punya
kesempatan untuk mengge-rendelnya diam-diam. Karena itu saya mencocok¬kan
bukti yang saya dapat. Ternyata potongan kain itu sama dengan sobekan yang
terdapat pada ban lengan baju kerja Nyonya Cavendish. Di dalam pemeriksaan,
Nyonya Cavendish juga mengatakan bahwa dia mendengar suara meja jatuh dari
kamarnya. Saya membuktikan pernyataan tersebut dengan menempatkan kawan saya,
Tuan Hastings, di depan kamar Nyonya Cavendish. Saya sendiri berada di dalam
kamar Almarhumah dengan beberapa polisi dan dengan sengaja menjatuhkan daun
meja yang lepas itu. Seperti telah saya duga, ternyata Tuan Hastings tidak mendengar
apa-apa. Ini menambah keyakinan saya, bahwa Nyonya Cavendish tidak mengatakan
yang sebenarnya paaa waktu pemeriksaan. Sebaliknya saya yakin, bahwa Nyonya
Cavendish tidak berada di kamarnya sendiri tetapi di kamar Almarhumah ketika bel
berbunyi."
Saya melirik Mary. Dia pucat, tetapi tersenyum. "Saya terus bekerja berdasarkan
asumsi terse¬but. Nyonya Cavendish berada di dalam kamar ibu mertuanya. Anggap
saja dia mencari sesuatu yang belum ditemukannya. Tiba-tiba Nyonya Ingle¬thorp
terbangun karena kesakitan. Tangannya yang terentang akan menarik bel menyentuh
daun meja yang goyang. Lilin Nyonya Cavendish terlempar jatuh karena dia terkejut.
Tetesan lilin mengotori karpet. Nyonya Cavendish cepat-cepat mengam¬bil lilinnya
lalu masuk ke kamar Nona Cynthia. Dia cepat-cepat ke koridor agar pembantu jangan
sampai melihatnya berada di tempat itu. Tapi ternyata dia terlambat! Dia mendengar
langkah-langkah kaki yang melewati gang menuju ke kamar Almarhumah. Apa yang
dilakukannya? Secepat kilat dia kembali lagi ke kamar gadis itu dan menggoyanggoyangkan
badannya agar bangun. Orang-orang lainnya terlalu sibuk mencoba
membuka pintu kamar Nyonya Inglethorp, sehingga tidak berpikir mengapa Nyonya
Caven¬dish tidak datang bersama-sama dengan mereka. Hal ini menjadi lebih jelas
lagi ketika saya tanyakan, karena ternyata tak seorang pun yang melihatnya datang
dari sayap rumah yang berlawanan. Apakah benar demikian, Nyonya?" Mary
Cavendish menganggukkan kepalanya.
"Benar sekali yang Anda katakan, Tuan. Kalau seandainya dengan menceritakan hal
itu saya bisa membebaskan suami saya, maka saya pasti sudah menceritakannya dari
kemarin. Tetapi kelihatan¬nya hal itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap
pembebasannya."
"Anda benar, Nyonya. Tetapi dengan mengakui kebenaran fakta tersebut, setidaknya
akan mem¬bantu saya menentukan sikap, karena apabila saya tahu bahwa asumsi
saya benar, saya bisa melihat fakta-fakta lain dengan lebih jelas."
"Surat wasiat!" seru Lawrence. "Kalau begitu kau yang memusnahkan surat itu,
Mary?"
Mary menggelengku! kepala. Juga Poirot.
"Bukan," kata Poirot tenang. "Hanya ada satu orang yang punya kemungkinan
memusnahkan wasiat itu—Nyonya Inglethorp sendiri."
"Tidak mungkin!" seru saya. "Dia baru saja membuatnya sore itu!"
'Tetapi memang dialah yang melakukannya. Karena, tak ada alasan lain lagi untuk
menjelaskan mengapa pada hari yang sangat panas itu Nyonya Inglethorp justru
menyuruh pelayannya menyala¬kan api di kamarnya."
Saya tersentak. Alangkah tololnya saya. Tak pernah terpikir sama sekali hal itu!
Poirot melanjutkan,
'Temperatur pada hari itu adalah 80° F. Tapi Nyonya Inglethorp minta agar api di
kamarnya dinyalakan! Mengapa? Karena dia ingin memus¬nahkan sesuatu dan tak
terpikir olehnya cara lain
ecuan membakarnya. Anda semua tentunya masih ingat, bahwa pada saat sulit seperti
ini, penghematan sangat digalakkan dan memang dipraktekkan di Styles. Tak
selembar kertas bekas pun terbuang. Karena itu tak ada yang bisa dilakukan untuk
memusnahkan kertas tebal seperti formulir surat wasiat kecuali dengan membakarnya.
Pertama kali saya mendengar bahwa Nyonya Inglethorp minta agar api dinyalakan,
saya segera menyimpulkan bahwa dia ingin memusnahkan suatu dokumen
berhar¬ga—-mungkin sebuah surat wasiat. Jadi saya tidak terlalu heran ketika
menemukan sepotong kertas bekasnerbakar. Tentu saja pada saat itu saya belum tahu
bahwa surat wasiat itu baru saja dibuat sorenya. Dan saya akui, bahwa ketika saya
tahu fakta tersebut, saya membuat kesalahan. Saya menyimpulkan bahwa keputusan
Nyonya Ingle¬thorp untuk memusnahkan surat wasiat itu disebabkan oleh
pertengkarannya pada sore itu dan bahwa pertengkaran itu terjadi setelah dan bukan
sebelum dia membuat surat wasiat.
"Di sini saya keliru dan saya terpaksa melepaskan ide tersebut. Saya menghadapi
per¬soalan itu dari sudut yang lain. Pada jam 4, Dorcas mendengar Nyonya
Inglethorp berkata, 'Jangan dikira bahwa publisitas skandal suami-istri akan
membuatku mundur.' Saya menebak, dan ternyata benar, bahwa kata-kata tersebut
tidak ditujukan pada suaminya tetapi pada Tuan John Cavendish. Satu jam kemudian,
pada jam 5 sore, Nyonya
Inglethorp mengulangi kata-kata yang hampir sama, tapi dengan tujuan berbeda. Dia
mengatakan pada Dorcas, 'Aku tak tahu harus berbuat apa. Skandal antara suami-istri
benar-benar mengeri¬kan.' Pada jam 4 dia marah, karena persoalan orang lain. Tapi
pada jam 5 dia marah dan dalam keadaan tertekan dan sedih.
"Dari sudut psikologi, saya membuat suatu deduksi yang saya rasa benar. Skandal
kedua yang dia katakan tidaklah sama dengan yang pertama, karena yang kedua
menyangkut dirinya sendiri!
"Mari kita rekonstruksi. Pada jam 4, Nyonya Inglethorp bertengkar dengan anaknya
dan mengancam untuk memberi tahu istrinya—yang kebetulan mendengar sebagian
besar percakapan itu. Pada jam 4.30, sebagai akibat percakapan tersebut, Nyonya
Inglethorp membuat sebuah surat wasiat baru yang mewariskan hartanya kepada
suaminya. Surat wasiat itu ditandatangani kedua tukang kebun sebagai saksi. Pada
jam 5, Dorcas melihat nyonyanya sedang gelisah meme¬gang selembar kertas—
katakanlah 'surat'. Pada saat itulah Nyonya Inglethorp memerintahkan Dorcas
menyalakan api. Jadi, antara jam 4.30 dan jam 5, ada sesuatu yang telah terjadi yang
menyebabkan perubahan total seluruh perasaan¬nya, karena pada saat itu dia
berkeinginan untuk mengubah surat wasiat tersebut. Apakah sebenar¬nya yang
terjadi?
"Setahu kita, Nyonya Inglethorp sendirian di kamar kerjanya pada waktu tersebut.
Tak ada seseorang yang masuk atau keluar ruangannya. Jadi ada apa?
"Kita hanya bisa menebak. Tapi saya merasa bahwa tebakan saya benar. Nyonya
Inglethorp tidak punya perangko di mejanya. Kita tahu hal ini, karena kemudian dia
menyuruh Dorcas untuk membelinya. Di sudut lain, dalam ruangan itu ada meja
suaminya—yang terkunci. Nyonya Ingle¬thorp memerlukan perangko.
"Bayangan saya, dia mencoba membuka meja suaminya dengan kuncinya. Ternyata
bisa. Ke¬mudian dia mencari-cari perangko di dalamnya. Tetapi ternyata dia
menemukan sesuatu yang lain—yaitu selembar kertas yang dilihat Dorcas digenggam
nyonyanya, kertas yang isinya tidak diperuntukkan bagi Nyonya Inglethorp.
Sebalik¬nya, Nyonya Cavendish menganggap bahwa kertas yang digenggam ibu
mertuanya itu merupakan bukti tertulis dari ketidaksetiaan suaminya. Dia meminta
kertas itu dari Nyonya Inglethorp, tapi Nyonya Inglethorp meyakinkan¬nya bahwa
surat itu tak ada hubungannya dengan persoalan Nyonya Cavendish. Nyonya
Cavendish tiflak percaya. Dia mengira bahwa Nyonya Inglethorp berusaha
melindungi anaknya. Nyonya Cavendish adalah seorang yang berpendirian keras. Di
balik sikapnya yang pendiam, dia sangat cemburu pada suaminya. Dia memutuskan
untuk mendapatkan kertas tersebut dengan cara apa pun. Kesempatan baik rupanya
datang. Dia kebetulan menemukan kunci tas Nyonya Inglethorp yang hilang, dan dia
tahu bahwa Ibu mertuanya itu menyimpan semua surat-surat penting di tas tersebut.
"Karena itu, Nyonya Cavendish membuat rencana. Pada suatu malam dia melepas
gerendel pintu yang menghubungkan kamar Almarhumah dengan kamar Nona
Cynthia. Barangkali dia juga ^ memberi minyak atau pelumas di lubang kunci pintu
itu karena ketika saya cek, pintu tersebut dapat terbuka tanpa suara. Dia
menangguhkan rencananya sampai pagi, karena dia meras.a lebih j aman pada waktu
pagi. Para pelayan biasa mendengar dia bangun sekitar jam itu. ' Dia memakai baju
kerja ladang, lalu diam-diam menuju kamar Nona Cynthia."
Dia berhenti sejenak. Cynthia menyela, *\
"Tentunya saya akan terbangun kalau ada seseorang masuk ke kamar saya."
"Tidak kalau Anda dibius, Nona."
"Dibius?"
"Mais, out V'
"Barangkali Anda semua masih ingat betapa \, nyenyak Nona Cynthia tidur, ketika
yang lain ribut di dekat kamarnya. Ada dua kemungkinan yang menyebabkannya.
Pertama adalah pura-pura—dan saya rasa itu tidak benar—yang kedua adalah dibius."
"Untuk kemungkinan kedua ini, saya membuk¬tikannya dengan memeriksa semua
cangkir kopi dengan hati-hati. Nyonya Cavendish-Iah yang membawa cangkir kopi
Nona Cynthia pada malam sebelumnya. Saya mengambil contoh sisa kopi dari
masing-masing cangkir itu dan menganalisanya— tanpa hasil. Saya juga menghitung
semua cangkir. Enam orang dengan enam cangkir kopi. Sudah pas.
"Kemudian saya baru tahu bahwa saya membuat kekeliruan. Sebenarnya ada tujuh
dan bukan enam orang yang minum kopi, karena pada malam itu Dokter Bauerstein
datang. Hal ini mengubah segalanya, karena ada sebuah cangkir yang hilang. Para
pembantu tidak tahu, karena Annie yang menyiapkan tujuh cangkir tidak tahu bahwa
Tuan Inglethorp tidak minum kopi, sedangkan Dorcas yang membersihkan cangkir
kopi esok paginya menemukan enam cangkir seperti biasanya—atau tepatnya dia
menemukan lima cangkir, sedangkan yang satu hancur berantakan di kamar Nyonya
Inglethorp.
"Saya yakin bahwa cangkir kopi yang hilang itu adalah cangkir Nona Cynthia.
Keyakinan saya itu diperkuat oleh satu hal yaitu semua kopi yang ada pada cangkircangkir
itu mengandung gula se¬dangkan Nona Cynthia tidak pernah minum kopi
dengan gula. Perhatian saya tertarik pada cerita Annie yang mengatakan bahwa dia
melihat sejumput garam di nampan coklat yang selalu dibawanya naik ke kamar
Nyonya Inglethorp. Saya mengambil contoh sisa coklat tersebut untuk dianalisa."
"Tapi Dokter Bauerstein kan telah melakukan¬nya," sela Lawrence.
"Dokter Bauerstein memang meminta agar cokiat tersebut dianalisa, tapi dia hanya
ingin tahu apakah cairan itu mengandung strychnine atau tidak.
Dia tidak minta agar coklat itu dianalisa untuk mengetahui adanya narkotika,
misalnya." "Narkotika?"
"Ya. Ini laporan analisnya. Nyonya Cavendish memberikan narkotika yang tidak
berbahaya tapi cukup efektif, kepada Nyonya Inglethorp dan Nona Cynthia. Dan
karena itulah dia merasa gelisahi Bayangkan perasaannya ketika tiba-tiba ibu
mertuanya sakit dan meninggal. Dia ketakutan karena mengira bahwa
perbuatannyalah • yang menyebabkannya walaupun dia tahu bahwa obat itu aman.
Dia menjadi kacau dan dengan pikiran kalut dia m elemparkan cangkir kop i Nona
Cynthia ke sebuah vas tembaga besar. Cangkir itu kemudian ditemukan oleh Tuan
Lawrence. Nyonya Cavendish tidak berani menyentuh sisa coklat karena akan terlalu
banyak mata yang melihatnya. Bayangkan bagaimana dia merasa lega ketika akhirnya
dinyatakan bahwa strychnine-lah yang menyebabkan kematian Nvonya Inglethorp,
dan bukan perbuatannya.
"Kita sekarang tahu mengapa akibat peracunan strychnine bisa tertunda begitu lama.
Karena narkotika yang diberikan bersama strychnine memang bisa menunda
reaksinya selama beberapa jam."
Poirot berhenti sejenak, Mary memandangnya. Wajahnya sudah tidak pucat lagi.
"Apa yang Anda katakan semuanya benar, Tuan
Poirot. Saat itu merupakan saat yang paling menegangkan dalam hidup saya dan saya
tak akan melupakannya. Tapi Anda memang luar biasa. Saya mengerti sekarang—"
"Apa yang saya maksud ketika saya mengatakan bahwa Anda bisa mengaku dosa
pada Pastor Poirot? Tapi Anda tidak mau mempercayai saya."
"Sekarang saya mengerti," kata Lawrence. "Coklat yang diberi narkotika bercampur
dengan kopi beracun akan menunda reaksi."
"Tepat. Tapi apakah kopi itu beracun? Di sini Juja terbentur pada suatu kesulitan,
karena Nyonya Inglethorp tidak minum kopi itu,"
"Apa?" hampir semuanya berteriak bersama keheranan.
"Benar. Anda ingat saja pernah mengatakan saya menemukan noda bekas kopi di
karpet? Ada sesuatu yang khusus pada noda tersebut. Noda itu masih lembab, basah,
dan berbau kopi tajam sekali. Di samping menemukan noda tersebut, saya juga
menemukan pecahan cangkir. Apa yang telah terjadi tidak terlalu sulit untuk
dibayangkan, karena belum ada dua menit setelah saya meletakkan tas kecil saya di
meja Nyonya Inglethorp, daun meja tersebut bergoyang dan jatuh bersama tas saya di
tempat yang sama dengan tempat saya menemukan pecahan cangkir. Rupa¬nya
setelah sampai di kamarnya, Nyonya Inglethorp meletakkan cangkir kopinya di meja
yang sama dan cangkir itu jatuh—pecah.
"Apa yang terjadi kemudian adalah dugaan saya saja. Nyonya Inglethorp mengambil
pecahan cangkir dan meletakkannya di meja dekat tempat tidurnya. Karena ingin
minum sesuatu yang hangat, dia kemudian memanaskan coklat dan meminumnya.
Persoalan yang timbul adalah begini. Kita tahu bahwa coklat itu tidak mengandung
strychnine, sedangkan kopi itu tidak diminumnya. Padahal strychnine itu pasti
dimi¬numnya antara jam tujuh dan jam sembilan malam itu. Jadi medium apa yang
bisa menyembunyikan rasa strychnine tapi yang tak pernah kita curigai?" Poirot
memandang berkeliling dan menjawabnya sendiri dengan impresif, "Obatnya
sendiri!"
"Maksudmu strychnine itu dimasukkan si pembunuh ke dalam toniknya?" seru saya.
"Tidak. Dia tidak perlu melakukan hal itu. Strychnine itu ada di dalam tonik itu
sendiri. Strychnine yang membunuh Nyonya Inglethorp adalah sama dengan yang
diberikan Dokter Wilkins. Supaya jelas akan saya bacakan paragraf sebuah buku dari
Ruang Obat Red Cross Hospital di Tadminster.
'Resep ini sangat dikenal dalam buku teks,
Strycbninae Sulph gr.I
Potass Bromide 3vi
Aqua ad 3viii
Fiat Mistura
Dalam beberapa jam, larutan ini bisa mengendap¬kan garam strychnine sebagai
bromida yang tidak dapat larut dan membentuk kristal transparan. Seorang wanita
telah meninggal karena minum campuran yang sama: strychnine yang mengendap di
dasar botol. Dengan meminum larutan ter¬akhir, dia meminum hampir seluruh
endapan!'
"Sekarang, dalam resep Dokter Wilkins me¬mang tidak ada bromida, tapi barangkali
Anda masih ingat bahwa saya pernah menyebutkan satu kotak bubuk bromida yang
telah kosong. Satu atau dua butir bubuk apabila dimasukkan ke dalam botol obat
Nyonya Inglethorp akan mem¬punyai efek yang sama, yaitu menyebabkan
peng¬endapan strychnine di dasar botol. Mungkin Anda juga masih ingat bahwa
orang yang me¬nuang obat Nyonya Inglethorp harus sangat berhati-hati agar botolnya
tidak terguncang.
"Dalam kasus ini, sudah direncanakan bahwa tragedi itu akan terjadi pada hari Senin.
Pada hari itu kabel bel Nyonya Inglethorp telah dipotong dengan hati-hati, dan pada
malam itu Nona Cynthia tidur di rumah kawannya, sehingga Nyonya Inglethorp
benar-benar berada di savap kanan sendirian—tanpa alat komunikasi. Dengan
demikian tak akan ada bantuan apa pun apabila dia memerlukannya. Akan tetapi,
karena tergesa-gesa pergi ke sebuah acara, Nyonya Inglethorp lupa minum obatnya.
Besok siangnya dia makan siang di rumah kawannya. Jadi akhirnya dosis terakhir
yang fatal itu diminum 24 jam lebih lama dari yang direncanakan oleh si pembunuh.
Tetapi karena penundaan itulah mata rantai terakhir—
dari peristiwa ini—sekarang berada dalam geng¬gaman saya."
Di tengah tarikan napas para pendengar, Poirot mengeluarkan tiga lembar kertas.
"Sebuah surat yang ditulis oleh pembunuh itu sendiri, mes amis i Seandainya isi surat
ini lebih jelas, Nyonya Inglethorp pasti terhindar dari bahaya."
Dalam keheningan, Poirot menyambung ketiga sobekan surat dan sambil berdehem
dia membaca, " 'Evelyn tersayang,
Kau pasti ingin tahu apa yang terjadi. Semuanya beres. Hanya saja rencana itu akan
terjadi malam ini, bukannya kemarin. Kau pasti mengerti. Apabila si Tua itu sudah
meninggal semuanya akan menyenangkan. Tak seorang pun akan bisa menudingkan
jari padaku. Idemu tentang bromi¬da itu memang hebat! Tapi kita harus sangat
berhati-hati. Satu langkah keliru—'
"Surat itu terhenti di situ. Pasti si penulis merasa terganggu. Tapi identitasnya sangat
jelas. Kita semua tahu tulisan tangannya dan—"
Sebuah geraman seperti suara halilintar meme¬cah kesunyian.
"Setan! Dari mana kau dapat itu?"
Sebuah kursi terbalik. Poirot mengelak ke samping dengan cepat dan si penyerang
roboh ke lantai.
"Messieurs, Mesdames, saya perkenalkan Anda pada si pembunuh, Tuan Alfred
Inglethorp!"
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://b1t4-daniyaputri.blogspot.com/
 

Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.12)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Hello I am Christine of Reborn Styles by Christine
» MISTERI DI BALIK SHOLAT DZUHUR YANG TERUNGKAP
» [video] menguak misteri di balik robohnya WTC
» Al Qur'an menjawab misteri di balik utuhnya jasad Firaun pengejar Musa yang tenggelam di laut selama ribuan tahun
» Iraq out of Chapter VII and moves on to the sixth and Kuwait happy editing restrictions

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
DETECTIVE AND MAFIA :: DAM Office :: Library :: Story of Detective-