DETECTIVE AND MAFIA
Silakan mendaftar atau masuk untuk mengakses forum Detective and Mafia.


-Terima Kasih-

DETECTIVE AND MAFIA

Mens Vincit Omnia
 
IndeksIndexGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Selamat datang di forum Detective and Mafia, silakan perkenalkan diri
di Perkenalan member baru agar resmi menjadi member Detective and Mafia
Selamat datang di DAM
Silakan baca petunjuk, peraturan dan tata cara bermain forum
Di sini sebelum melakukan aktivitas di forum

Share | .
 

 Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.11)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Cherrémio Chii

Newbie
Newbie
avatar

Female
Age : 20
Reputation : 5
Jumlah posting : 265

PostSubyek: Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.11)   Mon Mar 28, 2011 3:34 pm

11 SEBUAH KASUS UNTUK DISIDANGKAN

PERSIDANCAN John Cavendish dengan tuduhan membunuh ibu tirinya dilakukan
dua bulan kemudian.
Pada minggu-minggu antara saat John ditahan dan sidang dimulai tak banyak yang
akan saya ceritakan. Rasa simpati dan kagum saya pada Mary Cavendish semakin
besar. Dia berjuang mati-matian membela suaminya.
Saya ceritakan hal itu pada Poirot, dan dia mengangguk sambil termenung.
"Ya. Dia salah seorang wanita yang baru kelihatan kebaikannya dalam situasi sulit.
Dengan begitu kita tahu, bahwa dia benar-benar mencintai¬nya dengan tulus. Rasa
angkuh dan cemburu¬nya—"
"Cemburu?" tanya saya.
"Ya. Kau tidak melihatnya sebagai seorang wanita yang mempunyai rasa cemburu
yang besar? Rasa angkuh dan cemburunya telah dikesamping¬kan. Dia hanya
memikirkan suaminya saja dan nasib buruk yang membayanginya."
Poirot berkata dengan penuh perasaan. Saya memandangnya penuh perhatian sambil
meng¬ingatkan apa yang dikatakannya siang itu—apakah sebaiknya dia berkata atau
tidak. Dengan pertimbangan demi "kebahagiaan seorang wanita', saya ikut senang
bahwa keputusan itu pada akhirnya tidak lagi membebani pikirannya."Sampai
sekarang pun aku belum bisa percaya karena aku membayangkan Lawrence, dan
bukan¬nya John.1'
Poirot menyeringai.
"Aku tahu."
"Tapi—ah, John! Temanku, John!"
"Setiap pembunuh barangkali juga teman baik seseorang," kata Poirot berfilsafat.
"Kau tidak bisa mencampur sentimen dengan akal sehat."
"Setidaknya kau bisa memberiku petunjuk."
"Mungkin bisa, mon ami> tapi aku tidak melakukannya karena dia adalah teman
baikmu."
Saya agak malu mendengar hal itu, karena teringat bahwa saya mengatakan pada John
pendapat Poirot tentang Dr. Bauerstein yang ternyata keliru itu. Dr. Bauerstein
memang akhirnya dibebaskan dari tuduhan itu karena kecerdikannya. Namun
demikian, dia tak dapat lagi melakukan pekerjaan mata-matanya.
Saya bertanya pada Poirot apakah John akan kena hukuman. Tapi Poirot menjawab
bahwa dia akan bebas. Saya menjadi bingung.
"Tapi—" saya memprotes.
"Bukankah telah kukatakan bahwa aku tak punya bukti. Mengetahui bahwa seseorang
bersa¬lah tidak sama dengan mampu membuktikan bahwa dia bersalah. Dan dalam
kasus ini, bukti itu bisa dikatakan tidak ada. Itulah persoalannya.
Aku, Hercule Poirot, tahu, tapi aku kehilangan mata rantai terakhir. Kalau aku tak
bisa menemukannya—" Dia menggelengkan kepala dengan sedih.
"Kapan kau mulai mencurigai John Caven¬dish?" tanya saya.
"Apa kau sama sekali tidak mencurigainya?"
'Tentu saja tidak."
"Juga setelah mendengar potongan pembicaraan antara Nyonya Cavendish dengan ibu
mertuanya dan sikap tidak terus terangnya dalam peme¬riksaan?"
'Tidak."
"Apa kau tidak mencoba menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta dan
membayangkan bah¬wa bila bukan Alfred Inglethorp yang bertengkar dengan
istrinya—dan ingat bahwa Alfred menolak tuduhan itu mentah-mentah dalam
pemeriksaan— jadi kalau bukan Lawrence pasti John. Seandainya yang bertengkar
dengan Nyonya Inglethorp adalah Lawrence, maka sikap Mary itu tidak masuk akal.
Tetapi bila John, semuanya menjadi wajar."
"Jadi yang bertengkar dengan Nyonya Ingle¬thorp adalah John?" "Benar."
"Dan kau telah lama tahu hal itu?"
"Ya. Sikap Nyonya Cavendish hanya bisa diterima bila kejadiannya demikian."
"Tapi kau mengatakan bahwa dia punya kemungkinan dibebaskan?"
Poirot mengangkat bahunya.
'Tentu saja. Dalam pemeriksaan pendahuluan nanti akan kita dengar tuduhannya, tapi
aku rasa pengacaranya akan memberi tahu agar dia lebih banyak diam. Dan baru
membela diri dalam persidangan. Dan—o ya, aku akan memberi tahu bahwa aku tak
akan datang pada sidang itu."
"Kenapa?"
"Karena secara resmi tak ada hubungannya. Aku tak akan tampil sebelum kutemukan
mata rantai terakhir. Nyonya Cavendish harus merasa bahwa aku bekerja membela
kepentingan suami¬nya, bukan sebaliknya."
"Ah, aku rasa kau tak perlu bersikap begitu," protes saya.
"Kita sedang berhadapan dengan seorang pembunuh yang cerdik dan licin. Karena itu
kita harus menggunakan kekuatan yang kita miliki agar dia tidak lepas dari
genggaman. Karena itu pula aku sangat hati-hati dan tak mau terlalu menonjolkan
diri. Semua penemuan dilakukan oleh Japp dan Japp-lah yang akan mendapat pujian.
Seandainya aku dipanggil untuk memberi kesaksian," katanya sambil tersenyum
lebar— "maka aku akan bertindak sebagai saksi untuk kepentingan ter¬dakwa."
Saya sama sekali tak bisa mempercayai pende¬ngaran saya.
"Memang agak en regie," sambungnya, "tapi aku memang punya satu bukti yang bisa
melumpuhkan penahanan itu."
"Yang mana?"
"Yang berhubungan dengan dihancurkannya sebuah surat wasiat itu."
Poirot memang nabi. Saya tak akan bercerita panjang-lebar tentang pemeriksaan
pendahuluan polisi.
John Cavendish memang lebih banyak diam dan karena itu dia disidangkan.
Pada bulan September kami pindah ke London. Mary tinggal di sebuah rumah di
Kensington dan Poirot pun dianggap sebagai anggota keluarga.
Saya sendiri bekerja di Kantor Perang, jadi bisa menengok mereka setiap saat.
Minggu demi minggu berlalu. Kegelisahan Poirot semakin mencemaskan. Mata rantai
ter¬akhir itu masih belum ditemukannya. Secara pribadi saya berharap agar situasi itu
tetap demikian, karena saya tahu bahwa Mary tak akan bahagia bila John dibebaskan.
Pada tanggal 15 September John Cavendish disidang dengan tuduhan 'Pembunuhan
yang direncanakan terhadap Emily Agnes Inglethorp', dan menolak tuduhan tersebut.
Sir Ernest Heavywether yang terkenal itu menjadi pembelanya.
Tuan Philips yang membuka sidang.
Dia mengatakan pembunuhan itu direncanakan dan merupakan pembunuhan sadis
yang dilakukan oleh seorang anak tiri terhadap ibu tirinya yang menyayanginya. Sejak
kecil tertuduh diasuh seperti anaknya sendiri. Dia dan istrinya tinggal bersama korban
di Styles Court dengan segala kemewahan dan perhatian yang dilimpahkan ibu
tirinya.
Penuntut menyarankan untuk memanggil saksi yang bisa menunjukkan betapa boros
cara hidup tertuduh, dan menunjukkan bahwa tertuduh sedang berada dalam kesulitan
keuangan yang serius. Penuntut juga menyatakan bahwa tertuduh telah melakukan
hubungan gelap dengan Nyonya Raikes, istri seorang petani. Hal ini didengar oleh ibu
tirinya dan keduanya bertengkar seru pada sore hari sebelum tragedi itu terjadi. Pada
hari sebelumnya, tertuduh membeli strychnine di toko obat desa dengan menyamar
sebagai orang lain, yaitu sebagai suami Nyonya Inglethorp. Untung¬lah Tuan
Inglethorp mempunyai alibi untuk membela dirinya.
Pada sore tanggal 17 Juli, setelah bertengkar dengan anak tirinya, Nyonya Inglethorp
membuat surat wasiat baru. Surat wasiat itu ditemukan terbakar di perapian kamarnya
keesokan paginya. Surat wasiat tersebut menyatakan pewarisan harta untuk
suaminya—cukup bukti untuk itu. Korban telah membuat surat wasiat yang
menguntungkan suaminya sebelum pernikahan, tapi tertuduh tidak mengetahui hal ku.
Apa yang menyebabkan korban membuat surat wasiat baru padahal yang lama masih
ada, dia sama sekali tidak tahu. Ada kemungkinan korban lupa karena sudah tua.
Atau—yang lebih mungkin—korban menyangka bahwa surat wasiat itu batal karena
perkawinan¬nya. Sebab itu dia perlu membuat surat wasiat yang sama. Padahal tahun
sebelumnya korban membuat surat wasiat yang menguntungkan tertuduh. Biasanya
wanita tidaklah terlalu mengerti persoal¬an-persoalan demikian. Penuntut juga akan
mengajukan saksi untuk membuktikan bahwa tertuduhlah yang memberikan kopi
pada korban pada malam naas itu. Pada malam harinya tertuduh berusaha masuk ke
kamar korban untuk mencari kesempatan memusnahkan surat wasiat baru tersebut
sehingga surat wasiat yang berlaku adalah yang menguntungkan dirinya.
Tertuduh ditahan karena Detektif Inspektur Japp yang brilyan itu menemukan botol
strychnine yang dijual toko obat kepada Tuan Inglethorp di kamarnya. Juri akan
memutuskan apakah fakta-fakta yang dikemukakan cukup membuktikan kesalahan
tertuduh.
Sambil meyakinkan juri, Tuan Philips duduk dan menyapu keringat di dahinya.
Saksi-saksi yang dipanggil kebanyakan adalah mereka yang pernah menjadi saksi
pada waktu pemeriksaan. Pembuktikan secara medis pun diulangi lagi.
Sir Ernest Heavywether yang amat terkenal dengan sikapnya yang blak-blakan itu
hanya menanyakan dua pertanyaan.
"Benarkah, Dokter Bauerstein, bahwa strychni¬ne cair itu bereaksi dengan cepat?"
"Ya."
"Dan bahwa Anda tidak bisa memastikan apa yang memperlambat leaksi itu dalam
kasus ini?" "Ya."
"Terima kasih."
Tuan Mace mengenali botol strychnine yang pernah dijualnya pada 'Tuan Inglethorp.'
Setelah didesak, dia mengaku bahwa dia hanya tahu Tuan Inglethorp sepintas saja.
Dia belum pernah bicara dengannya. Saksi ini tak ditanyai pembela.
Alfred Inglethorp dipanggil dan menolak tuduhan bahwa dia pernah membeli
strychnine. Dia juga tidak merasa pernah bertengkar dengan istrinya. Beberapa saksi
membenarkan pernya¬taannya.
Kedua tukang kebun dan Dorcas dipanggil.
Dorcas yang setia pada 'tuan muda'nya membela mati-matian dan mengatakan bahwa
yang dide¬ngarnya bukan suara John dan dia menyatakan bahwa Tuan Inglethorp-lah
yang sore itu bersama nyonyanya di ruang kerja Nyonya Inglethorp. John tersenyum
saja mendengar pembelaan yang tak membantu itu. Nyonya Cavendish tentu saja
tidak bisa dipanggil untuk menjadi saksi bagi suaminya.
Setelah melewati beberapa pertanyaan, Tuan Philips bertanya,
"Pada bulan Juni yang lalu, apa kau menerima paket untuk Tuan Lawrence Cavendish
dari Parkson?"
Dorcas menggelengkan kepala.
"Saya tidak ingat, Tuan. Barangkali ada. Tapi Tuan Lawrence bepergian pada bulan
itu."
"Seandainya ada paket datang untuknya ketika dia tidak di rumah, apa yang akan
dilakukan?"
"Bisa disimpan dalam kamarnya atau dikirim ke tempat Tuan Muda berada."
"Kau yang melakukannya?"
"Bukan, Tuan. Saya hanya meletakkannya di meja. Nona Howard-lah yang mengurus
hal-hal semacam itu."
Evelyn Howard dipanggil. Setelah ditanyai tentang hal-hal lain, akhirnya pertanyaan
sampai pada soal paket.
"Tak ingat. Banyak paket. Tak ingat yang mana untuk siapa."
"Anda tidak tahu apakah paket itu dikirim ke Tuan Cavendish di Wales atau
diletakkan di kamarnya?"
"Rasanya tak dikirim. Pasti saya ingat kalau dikirim."
"Seandainya ada paket untuk Tuan Lawrence Cavendish dan paket itu lenyap, apa
Anda tahu atau ingat?"
"Tidak. Saya pasti mengira ada orang yang telah mengambilnya."
"Nona Howard, Andakah yang menemukan lembar kertas coklat ini?" katanya sambil
menunjukkan kertas lusuh yang pernah kami lihat.
"Ya, benar."
"Mengapa Anda mencarinya?" "Detektif Belgia yang diminta membantu, menyuruh
saya mencari kertas itu." "Di mana Anda temukan kertas itu?" "Di atas—di atas
lemari baju." "Di atas lemari baju terdakwa?" "Saya—rasa begitu."
"Apa Anda sendiri yang menemukannya?" "Ya."
"Kalau begitu Anda tahu di mana Anda menemukannya?"
"Ya. Di atas lemari baju terdakwa." "Nah, begitu."
Seorang .pegawai Perusahaan Kostum Teater Parkson memberi kesaksian bahwa pada
tanggal 29 Juni mereka mengirimkan jenggot hitam pada Tuan L. Cavendish, sesuai
permintaannya. Pesanan itu lewat surat. Sayang mereka tidak menyimpan surat
tersebut, karena semua transaksi dicatat dalam buku. Mereka mengirim jenggot itu
kepada 'L. Cavendish, Esq., Styles Court'.
Sir Ernest Heavywether bangkit dengan berat. "Dari mana surat itu dikirim?" "Dari
Styles Court."
"Alamat yang sama dengan tempat Anda mengirim paket itu?" "Ya."
"Dan surat itu dari sana?" "Ya."
Seperti seekor binatang buas mengejar mangsa¬nya, Heavy wether mengejar saksi.
"Bagaimana Anda tahu?"
"Saya—saya tidak mengerti."
"Bagaimana Anda tahu surat itu dari Styles? Anda memperhatikan cap posnya?"
"Tidak—tapi—"
"Ah, Anda tidak memperhatikan cap posnya! Tapi Anda begitu yakin bahwa surat itu
dari Styles. Padahal bisa saja cap posnya lain, kan?"
"Y-a."
"Dengan demikian surat yang dikirim itu bisa saja datang dari tempat lain. Misalnya
Wales."
Saksi mengaku bahwa hal itu mungkin saja terjadi dan Sir Ernest menyatakan bahwa
dia puas.
Elizabeth Wells, seorang pelayan di Styles memberikan kesaksian. Dia mengatakan
bahwa sebelum tidur dia ingat telah menggerendel pintu depan, padahal Tuan
Inglethorp telah berpesan agar tidak digerendeli karena itu dia turun lagi. Ketika
mendengar suara di sayap barat, dia mengintip dan melihat Tuan John Cavendish
mengetuk pintu kamar Nyonya Inglethorp.
Sir Ernest Heavywether menangani hal itu sebentar saja. Akhirnya pelayan tersebut
mundur dengan sikap tak berdaya dan Sir Ernest duduk kembali dengan senyum puas.
Dengan kesaksian Annie tentang tetesan lilin di karpet dan kesaksiannya bahwa dia
melihat tertuduh membawa kopi ke ruang kerja Nyonya
Inglethorp, sidang dihentikan dan dilanjutkan keesokan paginya.
Dalam perjalanan pulang, Mary mengomeli jaksa penuntut.
"Orang itu keterlaluan. Dia memasang perang¬kap untuk John! Dia memutarbalikkan
fakta!"
"Ah, tunggu saja besok. Situasi pasti akan berbalik," hibur saya.
"Ya," katanya sambil merenung, tiba-tiba dia berbisik, "Tuan Hastings, menurut
Anda—ah, pasti bukan Lawreoice—Ah, tak mungkin!"
Tapi saya sencnW juga bingung, begitu tak ada orang kecuali Poirot, saya langsung
minta pendapatnya tentang Sir Ernest—apa yang di¬mauinya.
"Dia memang pandai," jawab Poirot. "Apa dia yakin bahwa Lawrence yang
ber¬salah?"
"Aku rasa dia tidak percaya dan tidak peduli apa-apa! Yang dilakukannya hanyalah
menimbul¬kan kekacauan pada pikiran para juri sehingga pendapat mereka berbeda.
Dia berusaha menyata¬kan bahwa bukti-bukti untuk memberatkan John maupun
Lawrence sama banyaknya—dan aku yakin dia akan berhasil."
Saksi pertama yang dipanggil keesokan paginya adalah Detektif Inspektur Japp. Dia
memberikan kesaksian yang singkat. Setelah sedikit me¬nyinggung kejadian-kejadian
sebelumnya, dia melanjutkan,
"Berdasarkan informasi yang kami terima, Inspektur Polisi Summerhaye dan saya
memeriksa kamar tertuduh pada waktu dia tidak ada. Pada laci bajunya, tersembunyi
dalam tumpukan baju dalam, kami menemukan: satu, kaca mata bulat berbingkai
emas seperti milik Tuan Inglethorp, dan botol ini," katanya sambil menunjukkan
kedua benda tadi.
Botol kecil yang dikenali oleh pembantu toko obat itu berwarna biru dan mengandung
bubuk putih. Di - luarnya terdapat label bertuliskan, "strychnine hydro-chloride.
RACUN." Sebuah benda baru yang ditemukan oleh para polisi adalah kertas
pengering tmta yang panjang. Bencla itu ditemukan di buku cek Nyonya Inglethorp.
Setelah dihadapkan di depan kaca, terbaca tulisan berikut, "... semua yang kumiliki
setelah meninggal akan menjadi hak suamiku tercinta, Alfred Ing...." Kata-kata
tersebut dianggap merupakan isi surat wasiat yang dimusnahkan. Japp kemudian
mengeluarkan kepingan kertas dari perapian yang ditemukan Poirot. Dengan jenggot
yang ditemukan di gudang atas, sempurnalah bukti-bukti yang mereka dapat. Tapi
pemeriksaan Sir Ernest belumlah dimulai. "Kapan Anda memeriksa kamar
terdakwa?" "Selasa, 24 Juli."
"Tepat satu minggu setelah tragedi?" "Ya."
"Anda menemukan kedua benda itu di laci baju. Apa laci tersebut terkunci?"
"Tidak."
"Apakah menurut Anda tidak aneh kalau setelah seseorang melakukan pembunuhan
lalu dia me¬nyimpan bukti-bukti dalam sebuah laci yang tak terkunci?"
"Dia mungkin menyimpannya di situ karena tergesa-gesa."
"Tapi Anda baru saja mengatakan bahwa pemeriksaan itu dilakukan satu minggu
setelah kematian. Pembunuh pasti punya cukup banyak waktu un^ik mengeluarkan
dan memusnah¬kannya. "
"Barangkali."
"Tak ada barangkali tentang hal ini. Apakah dia punya cukup waktu atau tidak—
untuk memus¬nahkannya?"
"Ya."
"Apakah tumpukan baju tempat dia me¬nyembunyikan benda-benda itu berat atau
ri¬ngan?"
"Agak berat."
"Dengan kata lain, tumpukan baju tersebut merupakan tumpukan baju musim dingin.
Jelas bahwa tertuduh tidak akan sering membuka laci tersebut dalam cuaca seperti
ini."
"Barangkali tidak."
"Harap Saudara menjawab dengan tegas. Mungkinkah terdakwa membuka-buka laci
baju dalam untuk musim dingin dalam cuaca panas seperti ini? Ya atau tidak?"
"Tidak."
"Kalau begitu, apakah mungkin seseorang lain meletakkan kedua benda tadi di tempat
yang sama tanpa diketahui tertuduh?"
"Rasanya tidak demikian."
"Tetapi mungkin?"
"Ya."
"Baik. Itu saja."
Lebih banyak bukti menyusul. Kesaksian bahwa tertuduh dalam kesulitan uang pada
akhir Juli. Bukti bahwa tertuduh berhubungan gelap dengan Nyonya Raikes. Kasihan
Mary, pasti pedih rasanya mendengar suaminya ada main dengan wanita lain. Evelyn
Howard rupanya mempunyai fakta yang benar walaupun kesimpulannya salah. Dia
menyangka bahwa Alfred Inglethorp-lah yang berhubungan dengan Nyonya Raikes.
Lawrence Cavendish kemudian dipanggil. De¬ngan suara rendah dia menjawab
pertanyaan jaksa bahwa dia tidak memesan apa-apa dari Parkson pada bulan Juni. Dia
bahkan ada di Wales pada tanggal 29 Juni.
Dagu Sir Ernest Heavy wether segera terangkat.
"Anda menolak kenyataan bahwa anda telah memesan sebuah jenggot hitam dari
Parkson pada tanggal 29 Juni?"
"Ya."
"Ah! Seandainya ada sesuatu yang menimpa kakak Anda, siapa yang akan menerima
warisan Styles Court?"
Kekasaran pertanyaan itu membuat wajah pucat Lawrence berubah jadi merah. Jaksa
memper¬dengarkan gumaman tidak setuju dan terdakwa membungkuk ke depan
dengan marah.
Tetapi Heavywether tidak peduli dengan kemarahan kliennya.
"Harap jawab pertanyaan saya!"
"Saya rasa, sayalah yang akan mewarisinya," kata Lawrence pelahan.
"Apa maksud Anda dengan, 'saya rasa'? Kakak Anda tidak punya anak. Jadi Andalah
yang pasti akan menerimanya. Begitu, bukan?"
"Ya."
"Nah, begitu," kata Heavywether dengan kejam. "Dan Anda juga akan mewarisi uang,
bukan?"
"Sir Ernest, pertanyaan tersebut kurang rele¬van," kata jaksa menyela.
Sir Ernest hanya mengangguk. Setelah melem¬parkan anak panahnya, dia
melanjutkan,
"Pada hari Selasa tanggal 17 Juli, Anda dengan beberapa teman mendatangi ruang
obat Red Cross Hospital di Tadminster?"
"Ya."
"Apakah Anda—pada saat sendirian—membu¬ka lemari racun dan memeriksa botolbotol
di
situ?"
"Barangkali."
"Saya bertanya, apa Anda melakukannya?" "Ya."
Sir Ernest kemudian menembakkan pertanyaan berikut,
"Apa Anda memeriksa sebuah botol khusus?"
'Saya rasa tidak."
"Hati-hati, Tuan Cavendish. Pertanyaan saya menunjuk pada botol kecil berisi hydrochloride
strychnine."
Wajah Lawrence menjadi pasi kehijauan.
"S-aya kira tidak."
"Jadi bagaimana saya harus menunjukkan fakta bahwa sidik jari Anda menempel di
botol ini?"
Gertakan Sir Ernest semakin menjadi-jadi menghadapi saksi yang gelisah.
"Kalau—kalau begitu tentunya saya telah memegang botol itu."
"Saya rasa begitu! Apa Anda mengambil isi botol ini?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu kenapa Anda memegang botol ini?"
"Saya pernah mempelajari ilmu kedokteran. Hal-hal semacam itu tentunya menarik
perhatian saya."
"Jadi racun merupakan hal yang dengan sendirinya menarik perhatian Anda? Tapi
mengapa Anda perlu waktu sendirian untuk memuaskan rasa ingin tahu Anda yang
wajar itu?"
"Itu hanya merupakan suatu kebetulan saja. Seandainya orang-orang lain ada di sana,
saya akan tetap melakukannya."
"Ya. Tapi yang telah terjadi—tak ada siapa pun di sana, bukan?"
"Tetapi—"
"Kenyataannya, selama Anda ada di ruang itu hanya ada waktu beberapa menit bagi
Anda untuk sendirian—dan yang terjadi—saya ulangi—yang terjadi—justru pada
waktu itulah Anda memuas¬kan 'rasa ingin tahu yang wajar' atas hydro¬chloride
strychnine?"
Lawrence tergagap dengan memelas,
"Saya—saya—"
Dengan nada puas Sir Ernest berkata,
"Itu saja pertanyaan saya untuk Anda, Tuan Cavendish."
Pemeriksaan itu membuat ruang pengadilan menjadi ribut. Kepala-kepala wanita yang
hadir dengan busana modern saling menempel dan bisikan mereka bertambah lama
bertambah keras, sehingga hakim mengancam akan menghentikan sidang bila mereka
tidak segera diam.
Sebuah pembuktian dilakukan. Ahli-ahli tulisan tangan dipanggil untuk
mengidentifikasi tanda tangan Tuan 'Alfred Ingiethorp* yang ada di daftar toko obat.
Mereka semua mengatakan bahwa tulisan itu bukan tulisan tangan asli Tuan
Inglethorp dan ada kemungkinan tulisan tersebut adalah tulisan palsu terdakwa.
Setelah diperiksa lagi pernyataan terakhir itu diulangi.
Kata pembukaan Sir Ernest dalam pembelaan¬nya tidaklah panjang-lebar, tapi
pidatonya terse¬but dikuatkan oleh sikapnya yang tegas dan tidak ragu-ragu. Dia
mengatakan, bahwa sebelumnya tak pernah dia menemukan kasus pembunuhan
dengan bukti yang begitu sedikit. Dan kesaksian-kesaksian pun tidak hanya sedikit,
tetapi juga tidak bisa dibuktikan. Penemuan botol strychnine di dalam laci yang tak
terkunci bukan merupakan bukti bahwa terdakwalah yang melakukannya. Ada
kemungkinan hal tersebut dilakukan oleh pihak ketiga untuk menjatuhkan terdakwa.
Penuntut juga tidak bisa membuktikan bahwa terdakwalah yang memesan jenggot
hitam dari Parkson. Pertengkaran antara terdakwa dengan ibu tirinya bisa diterima dan
dibenarkan, tetapi masalah kesulitan keuangan terlalu dilebih-lebihkan.
Tuan Philips, rekan Sir Ernest, mengatakan bahwa apabila terdakwa memang tidak
bersalah, seharusnya dia bisa mengatakan dengan terus terang bahwa dialah yang
telah bertengkar dengan ibunya dan bukan Tuan Inglethorp. Kejadian tersebut
disalahtafsirkan. Yang terjadi adalah begini. Ketika pulang pada hari Selasa malam,
dia diberi tahu bahwa ada pertengkaran hebat antara Nyonya dan Tuan Inglethorp.
Terdakwa tidak menyangka bahwa orang salah mengira suaranya sebagai suara Tuan
Inglethorp. Dan tentu saja dia tahu bahwa ibu tirinya bertengkar dua kali dengan dua
orang.
Penuntut menyatakan bahwa pada hari Senin, 16 Juli, terdakwa masuk ke dalam toko
obat di desa dengan menyamar sebagai Tuan Inglethorp. Sebaliknya, pada hari itu
terdakwa sebenarnya sedang berada di tempat terpencil bernama Marston's Spinney,
karena diminta datang oleh seseorang yang tak mau menyebut dirinya. Dia terpaksa
pergi karena mendapat ancaman dari orang tak dikenal tersebut yang bermaksud
membeberkan beberapa rahasia pribadinya pada istrinya kalau dia tidak pergi.
Terdakwa tentu saja pergi ke tempat tersebut. Tapi setelah menunggu dengan sia-sia
selama setengah jam, akhirnya dia kembali. Sayang dia tidak bertemu dengan siapa
pun di jalan. Tapi dia masih menyimpan surat kaleng tersebut.
Karena pernah belajar hukum dan berpraktek, terdakwa mengerti arti pernyataan
dalam surat wasiat yang dibuat setahun yang lalu. Surat wasiat _yang menguntungkan
dirinya itu otomatis batal, karena ibu tirinya menikah lagi. Pembela akan memanggil
saksi untuk mengatakan siapa yang memusnahkan surat wasiat yang baru.
Akhirnya, pembela menunjukkan bahwa masih ada bukti lain yang memberatkan
orang lain di samping John Cavendish. Dia menunjuk Lawren¬ce Cavendish yang
dikatakannya mempunyai bukti yang lebih memberatkan daripada John.
Dia sekarang akan memanggil terdakwa.
John bersikap sangat baik. Dengan bimbingan Sir Ernest yang meyakinkan, dia
menceritakan apa yang terjadi dengan baik. Surat kaleng yang ditujukan kepadanya
dikeluarkan untuk diperiksa juri. Dengan terus terang dia mengakui kesulitan
keuangannya dan pertengkaran dengan ibu tirinya.
Pada akhir pemeriksaannya dia diam sebentar,
lalu berkata,
"Saya ingin menjelaskan satu hal. Saya menolak dan tidak setuju dengan insinyuasi
Sir Ernest terhadap adik saya. Saya yakin bahwa adik saya tidak punya sangkut-paut
dengan pembunuhan ini.
Sir Ernest hanya tersenyum dan berkata dengan matanya bahwa ucapan John
memberikan kesan yang baik terhadap juri.
Kemudian pemeriksaan dilakukan.
"Tadi Anda katakan bahwa Anda tidak menyangka orang lain akan salah mengira
suara Anda sebagai suara Tuan Inglethorp. Bukankah itu aneh?"
"Saya kira tidak. Saya diberi tahu bahwa Ibu bertengkar dengan Tuan Inglethorp,
karena itu saya tidak pernah berpikir bahwa hal itu terjadi."
"Juga tidak terpikir ketika Dorcas mengulang-ulang beberapa bagian dari percakapan
itu—yang tentunya Anda kenali?"
'Tidak."
"Ingatan Anda benar-benar tumpul!"
"Tidak. Ibu dan saya pada waktu itu bertengkar seru. Dan saya begitu marah sehingga
tidak memperhatikan apa yang dikatakan Ibu."
Sikap tidak percaya Tuan Philips yang ditunjuk¬kan di depan umum pada saat itu
hanya merupakan kebiasaan yang dilakukannya di sidang pengadilan. Dia berpindah
pokok pembicaraan.
"Anda mengeluarkan surat ini pada saat yang tepat. Apa Anda mengenali tulisan
tangan ini?"
"Tidak."
"Bukankah tulisan ini mempunyai ciri-ciri yang sama dengan tulisan Anda—hanya
divariasikan saja?"
"Tidak."
"Saya menganggap tulisan ini adalah tulisan tangan Anda!" "Bukan."
"Saya menganggap bahwa karena Anda me¬merlukan suatu alibi, Anda lalu menulis
surat palsu ini dan mengarang-ngarang suatu pertemuan yang tak pernah ada."
"Tidak."
"Bukankah fakta ini benar? Pada waktu Anda mengatakan sedang berada di tempat
terpencil, sebenarnya Anda menyaru sebagai Tuan Ingle¬thorp dan pergi ke toko obat
di Styles St. Mary untuk membeli strychnine atas nama Tuan Alfred Inglethorp?"
"Tidak! Itu bohong."
"Saya menganggap bahwa dengan memakai baju seperti Tuan Inglethorp dan
memakai jenggot palsu. Anda pergi ke toko obat itu dan membeli strychnine atas
nama Tuan Inglethorp!"
"Itu sama sekali tidak benar."
"Kalau demikian saya akan menyerahkan pada juri untuk mempertimbangkan
kesamaan antara tulisan tangan pada surat, buku catatan toko obat, dan tulisan Anda,"
kata Tuan Philips. Dia duduk dengan sikap seorang yang telah selesai melakukan
tugasnya, tetapi tidak peduli dengan keputusan juri.
Karena sudah terlalu sore, persidangan akan dilanjutkan pada hari Senin.
Poirot kelihatannya memikirkan sesuatu. Saya melihat kerut di antara kedua matanya.
"Ada apa, Poirot?" tanya saya.
"Ah, m on ami. Persoalan menjadi bertambah ruwet, ruwet."
Anehnya, saya merasa lega. Kelihatannya ada harapan besar bagi John Cavendish
untuk lepas dari tuduhan.
Ketika kami sampai di rumah, kawan kecil saya itu menolak tawaran Mary untuk
minum teh.
"Terima kasih, Nyonya. Saya ingin masuk ke kamar saya."
Saya mengikuti dia. Dengan wajah tetap ber¬kerut, Poirot mendekati meja dan
mengeluar¬kan kartu permainan. Kemudian dia menarik kursi. Lalu dengan tenang
menyusun rumah-rumahan dengan kartu-kartu tersebut!
Saya merasa gemas. Tapi dia berkata mendahului saya,
"Tidak, mon ami. Aku tidak sedang dalam masa kanak-kanak kedua! Aku hanya ingin
menenang¬kan syarafku. Itu saja. Yang sedang kulakukan ini memerlukan
ketrampilan dan ketepatan gerakan jari-jari. Dan dengan ketrampilan jari-jariku ini,
kecekatan otak pun terbentuk. Dan aku memerlu¬kannya sekarang!"
"Persoalannya apa?" tanya saya.
Dengan gebrakan di meja, Poirot merobohkan susunan kartu-kartu itu.
'Begini, mon amil Aku bisa membuat rumah bersusun tujuh, tapi aku tak bisa"—-
bruk— "menemukan"—bruk—" mata rantai terakhir yang pernah kukatakan
padamu."
Karena saya tak tahu harus berkata apa, saya diam saja. Dia mulai menyusun rumahrumahan
itu lagi sambil berbicara terpatah-patah.
"Begini! Disusun dengan—menumpuk—satu kartu—di atas—kartu lain—dengan—
ketepatan matematis!"
Saya memperhatikan rumah kartu yang bertam¬bah tinggi. Dia tak pernah ragu-ragu
ataupun gemetar. Benar-benar ketrampilan yang memerlu¬kan kecepatan seorang
tukang sulap.
"Tanganmu sangat mantap. Aku hanya pernah melihatnya gemetar satu kali."
"Pasti ketika aku marah," kata Poirot dengan tenang.
"Ya! Kau sangat marah waktu itu. Kau masih ingat? Ketika kau menemukan ada
seseorang yang telah membuka tas ungu Nyonya Inglethorp dengan paksa. Kau
berdiri didekat perapian. Memegang-megang benda pajangan dengan tangan yang
gemetar hebat! Pasti—"
Saya berhenti bicara. Karena, dengan suara parau Poirot berseru dan sekali lagi
merombak susunan rumah kartunya. Sambil menutup mata dengan kedua tangannya
dia mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang seolah-olah menahan rasa sakit.
"Ya, Tuhan. Kenapa Poirot? Kau sakit?"
"Tidak—tidak," katanya tersendat. "Aku ha¬nya—ada ide timbul!"
"Oh! Salah satu 'ide-ide kecilmu* itu?"
"Ah, mafoiy bukan!" jawabnya. "Kali ini bukan ide kecil, tapi ide yang hebat!
Menakjubkan! Dan kau—kattj Kawan, yang telah memberikannya padaku!"
Tiba-tiba dia menggenggam lengan saya, dan mencium kedua pipi saya dengan
hangat. Sebelum saya sadar dari rasa terkejut, dia telah lari ke luar.
Mary Cavendish masuk ke kamar sesaat kemudian.
"Ada apa dengan Tuan Poirot? Dia berlari-lari melewati saya sambil berteriak,
'Garasi! Tunjuk¬kan di mana garasi Anda, Nyonya!' Sebelum saya sempat menjawab,
dia sudah sampai di jalan."
Saya cepat-cepat melihat ke luar jendela. Memang dia ada di luar, tidak memakai topi.
Saya menghadapi Mary dengan isyarat tanpa daya.
"Sewaktu-waktu dia bisa dihentikan polisi. Itu dia—sampai di belokan!"
Kami saling berpandangan tanpa bisa berbuat sesuatu.
"Ada apa sebenarnya?"
Saya menggelengkan kepala.
"Saya tidak tahu. Dia tadi menyusun rumah-rumahan dari kartu. Tiba-tiba sebuah ide
muncul di kepalanya, lalu dia lari ke luar seperti yang Anda lihat."
"Baiklah. Saya rasa dia akan kembali sebelum makan malam."
Tapi sampai malam, Poirot tidak kembali.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://b1t4-daniyaputri.blogspot.com/
 

Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.11)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Hello I am Christine of Reborn Styles by Christine
» MISTERI DI BALIK SHOLAT DZUHUR YANG TERUNGKAP
» mengungkap misteri swastika
» [video] menguak misteri di balik robohnya WTC
» Al Qur'an menjawab misteri di balik utuhnya jasad Firaun pengejar Musa yang tenggelam di laut selama ribuan tahun

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
DETECTIVE AND MAFIA :: DAM Office :: Library :: Story of Detective-