DETECTIVE AND MAFIA
Silakan mendaftar atau masuk untuk mengakses forum Detective and Mafia.


-Terima Kasih-

DETECTIVE AND MAFIA

Mens Vincit Omnia
 
IndeksIndexGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Selamat datang di forum Detective and Mafia, silakan perkenalkan diri
di Perkenalan member baru agar resmi menjadi member Detective and Mafia
Selamat datang di DAM
Silakan baca petunjuk, peraturan dan tata cara bermain forum
Di sini sebelum melakukan aktivitas di forum

Share | .
 

 Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.4)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Cherrémio Chii

Newbie
Newbie


Female
Age : 20
Reputation : 5
Jumlah posting : 265

PostSubyek: Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.4)   Mon Mar 28, 2011 3:16 pm

4. POIROT MENYELIDIK


RUMAH yang ditempati orang-orang Belgia itu terletak di dekat pintu gerbang
perkebunan. Kita bisa mencapainya lebih cepat dengan berjalan di jalan setapak, di
antara rerumputan yang tinggi daripada mengikuti jalan licin yang berkelok-kelok.
Jadi saya pun mengambil jalan pintas itu. Ketika berada di dekat rumah itu saya
melihat seseorang berlari-lari ke arah saya. Ternyata Tuan , Inglethorp. Dari mana
dia? Bagaimana dia akan memberikan alasan atas ketidakhadirannya?'
Dia mendatangi saya.
"Ya, Tuhan! Mengerikan sekali! Istriku yang malang! Aku baru saja mendengar berita
itu."
"Anda dari mana?" tanya saya.
"Denby menahanku tadi malam. Kami baru selesai jam satu. Saya baru sadar bahwa
saya tidak membawa kunci. Saya tak ingin mengganggu orang di rumah. Jadi saya
tidur di tempat Denby."
"Bagaimana Anda tahu apa yang terjadi?" tanya saya.
"Wilkins mengetuk rumah Denby dan memberi tahu dia. Kasihan Emily. Dia begitu
baik-—suka berkorban. Dia bekerja melebihi kekuatannya."
Saya merasa sebal. Alangkah munafiknya laki-laki ini!
"Saya terburu-buru, maaf," kata saya cepat dan bersyukur karena dia tidak
menanyakan tujuan saya.
Beberapa menit kemudian saya mengetuk pintu rumah orang-orang Belgia itu, yaitu
Pondok, Leastways.
Karena tak ada jawaban, saya mengulangi ketukan dengan tidak sahar. Sebuah jendela
tii atas saya dibuka dengan hati-hati. Poirot melongokkan kepalanya.
Dia berseru heran melihat saya. Dengan cepat saya ceritakan tragedi yang terjadi dan
bahwa saya memerlukan bantuannya.
"Tunggu, Kawan, aku akan membukakan pintu. Kau bisa bercerita sambil
menungguku berpakaian."
Sebentar kemudian dia membuka palang pintu dan saya mengikutinya ke atas. Dia
menyuruh saya duduk di kursi dalam kamarnya dan menceritakan segala sesuatu
tanpa menghilangkan detil-detilnya. Dia sendiri mulai berdandan.
Saya ceritakan bagaimana saya terbangun, kata-kata terakhir Nyonya Inglethorp,
ketidakha¬diran suaminya, pertengkaran yang terjadi, potongan percakapan yang
sempat saya dengar antara Mary dengan ibu mertuanya, pertengkaran
Nyonya Inglethorp dengan Evelyn Howard, dan sindiran-sindiran Nona Evelyn.
Sava merasa tidak bisa bercerita sejelas yang saya inginkan. Saya mengulangi hal
yang sama dan kadang-kadang harus kembali karena ada yang ketinggalan. Poirot
hanya tersenyum.
"Pikiranmu sedang kacau. Pelan-pelan saja, mon ami. Engkau merasa bingung,
gelisah—itu bisa dimengerti. Kalau pikiran kita lebih tenang, kita akan bisa menyusun
fakta dengan rapi dan pada tempatnya. Kita periksa, kita tolak, dan yang penting kita
sisihkan. Yang tidak penting— buh!"—Dia mengembangkan pipinya dan menghembuskannya
dengan lucu.
"Itu memang bagus," kata saya, "tapi bagaima¬na kita tahu yang ini penting dan yang
itu tidak? Sulit bagiku menentukannya."
Poirot menggelengkan kepala kuat-kuat. Dia sekarang merapikan kumisnya dengan
hati-hati.
'Tidak begitu. Voyonsi Sebuah fakta akan menggiring kita ke fakta lainnya—jadi
begitulah terus-menerus. Apa fakta berikutnya cocok? A merveille! Bagus! Bisa kita
teruskan. Fakta kecil berikutnya ini—sebuah mata rantai dari rantai itu tak ada di sini.
Kita periksa. Kita selidiki. Dan fakta kecil yang mencurigakan itu, detil kecil yang
remeh itu kita tempatkan di sini!" Dia membuat suatu gerakan dengan tangannya.
"Kelihatan jelas! Luar biasa!"
Y—a—.
"Ah!" Poirot menggoyang-goyangkan telun¬juknya dengan kencang di depan saya
sampai saya gemetar. "Awas! Bahaya bila seorang detektif berkata, 'Ah, kecil—tak
penting. Tak ada hubungannya. Lupakan saja.' Di situlah letak kesulitannya! Segala
sesuatu itu penting!"
"Ya, aku tahu. Kau selalu mengatakan hal itu. Karena itulah aku menceritakan semua
detil, baik yang kelihatan relevan maupun yang tidak, kepadamu."
"Dan aku senang sekali. Ingatanmu tajam dan semua kauceritakan. Mengenai urutan
ceritamu, aku tak mau berkomentar, karena menyedihkan! Tapi aku mengerti—kau
sedang bingung! Karena itu kau melupakan satu hal yang sangat penting."
"Apa itu," tanya saya.
"Kau belum memberi tahu apakah Nyonya .Inglethorp makan dengan enak tadi
malam."
Saya memandang Poirot dengan kasihan. Pasti peranyang kejam itu telah
mempengaruhi otaknya. Dengan tenang dia menyikat mantelnya sebelum
mengenakannya.
"Aku tak ingat," jawab saya. "Dan lagi rasanya kok—"
"Kok tidak ada hubungannya? Itu sangat penting."
"Aku tidak mengerti," kata saya dengan keras kepala. "Seingatku dia tidak makan
terlalu banyak. Dia sedang bingung dan sedih, karena itu tidak terlalu berselera untuk
makan. Itu wajar."
"Ya," kata Poirot merenung. "Itu wajar."
Dia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah tas kecil dan berkata kepada saya.
"Aku siap sekarang. Kita ke sana melihat tempat
itu. Maaf, mon ami, kau tadi pasti tergesa-gesa.
Dasimu miring. Maaf." Dengan cekatan jarinya
mengatur dasi saya. •
"Qa y est! Kita berangkat sekarang?"
Kami bergegas berjalan, dan akhirnya sampai di gerbang perkebunan. Poirot berhenti
sejenak, memandang sedih pada kebun yang membentang luas, berkilauan embunnya
kena cahaya pagi.
"Begitu indah. Sangat indah. Tapi keluarga itu sedang berkabung, tenggelam dalam
kesedihan."
Dia memandang saya dengan tajam waktu berbicara, dan saya sadar bahwa wajah
saya memerah di bawah tatapannya.
Apakah keluarga itu tenggelam dalam kesedih¬an? Apakah mereka sangat
kehilangan? Saya sadar bahwa tidak ada perasaan seperti itu pada mereka. Wanita
yang telah meninggal itu tidak memiliki cinta. Kematiannya memang mengejutkan,
tapi tak seorang pun merasa kehilangan dia.
Poirot kelihatannya mengetahui pikiran saya. Dia mengangguk dengan sedih.
"Kau benar," katanya. "Memang tak ada ikatan darah. Dia memang baik dan murah
hati pada kedua kakak beradik Cavendish, tapi dia bukanlah ibu mereka. Darah
memang menunjukkan— ingatlah hal itu—darah menunjukkan."
"Poirot," kata saya, "mengapa tadi kau bertanya apakah Nyonya Inglethorp makan
enak tadi malam? Aku telah berpikir-pikir dari tadi tapi tidak mengerti mengapa kau
menanyakan hal itu."
Dia diam sejenak sambil terus berjalan. Tapi akhirnya dia berkata,
"Aku tak keberatan mengatakannya padamu, walaupun aku tak biasa menjelaskan
sesuatu sebelum semuanya selesai. Anggapan yang berlaku sekarang adalah Nyonya
Inglethorp meninggal karena keracunan strychnine yang mungkin dimasukkan ke
dalam cangkir kopinya."
"Ya?"
"Jam berapa kopi disuguhkan?" Kira-kira jam delapan."
"Kalau begitu dia meminumnya antara setengah delapan sampai jam delapan—tak
lebih dari itu. Nah, strychnine adalah racun yang bekerja cepat. Efeknya akan segera
terasa, barangkali dalam waktu satu jam. Tapi dalam kasus Nyonya Inglethorp, tandatanda
itu tidak terlihat sampai pukul Hma pagi: sembilan jam! Tetapi apabila dia
makan banyak, maka itu bisa memperlambat kerjanya racun, walaupun tidak akan
selama itu. Walaupun begitu kemungkinan tersebut masih perlu diperhatikan. Tapi
tadi kau mengatakan bahwa dia hanya makan sedikit, sedangkan tanda-tanda itu
terlihat pada jam lima pagi! Ini adalah situasi yang mencurigakan, Kawan. Mungkin
ada sesuatu yang bisa dijelaskan dalam otopsi nanti. Sekarang, ingat-ingat saja hal
itu,"
Ketika kami berada di dekat rumah, John keluar menemui kami. Wajahnya kelihatan
capek dan kusut,
"Ini benar-benar hal yang tidak menyenangkan, Tuan Poirot," katanya. "Apa Hastings
telah memberi tahu Anda bahwa kami tidak menginginkan publisitas?" "Saya
mengerti."
"Sejauh ini, soal itu hanya merupakan suatu kecurigaan."
"Tepat. Ini hanya untuk berjaga-jaga saja."
John berpaling kepada saya, mengeluarkan kotak rokoknya, dan menyalakan
sebatang.
"Kau tahu si Inglethorp telah kembali?"
"Ya, Aku ketemu tadi."
John melempar korek api bekasnya ke bedeng tanaman. Pasti ini sangat menyakitkan
hati Poirot. Dia mencari korek itu dan ditanamnya dengan rapi.
"Aku tak tahu bagaimana harus memperlakukan dia."
"Kesulitan itu tak akan lama," kata Poirot tenang.
John kelihatan bingung dan tidak mengerti arti pernyataan yang penuh teka-teki itu.
Dia menyerahkan pada saya kedua kunci yang diberikan oleh Dr. Bauerstein tadi.
"Tunjukkan pada Tuan Poirot apa saja yang ingin diketahuinya."
"Kamar-kamar itu dikunci?" tanya Poirot. "Dr. Bauerstein berpendapat sebaiknya begitu."
Poirot mengangguk sambil merenung.
"Kalau begitu dia sangat yakin. Ya, itu akan mempermudah kita."
Kami naik ke atas bersama-sama dan masuk ke dalam kamar. Supaya lebih jelas, saya
gambar denah kamar itu dan barang-barang yang ada di dalamnya.
KAMAR NYONYA INGLE-THORP

A. PINTU KE LORONG
B. PINTU KE KAMAr ALFRED INGLE THORP
C. PINTU Ke KAMAR CYNTHIA MURDOCK
Poirot mengunci pintu dari dalam, lalu meme¬riksa kamar dengan teliti. Dia
berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan lincah seperti belalang. Saya hanya
berdiri di dekat pintu, takut menghapus suatu petunjuk. Tetapi kelihatannya
Poirot tidak berterima kasih kepada saya dengan kesabaran saya itu.
"He, kenapa kau berdiri saja di situ seperti— seperti babi dirantai?" serunya.
Saya jelaskan bahwa saya takut—jangan-jangan saya menghapus jejak kaki.
"jejak kaki?" Wah! Kelihatannya sudah ada sepasukan orang masuk ke tempat ini!
Jejak kaki yang mana yang kita perlukan? Ke sini sajalah membantu-bantu aku. Aku
akan meletakkan tasku di sini saja."
Dia meletakkan tasnya di atas sebuah meja bulat di dekat jendela. Tapi rupanya
sedang sial, daun meja itu bergoyang dan miring, lalu menjatuhkan tas Poirot.
"£K voila une table V* teriaknya. "Ah. Belum tentu tinggal di rumah besar
menyenangkan."
Setelah itu dia meneruskan penyelidikannya.
Dia tertarik pada sebuah tas kecil berwarna ungu dengan kunci yang masih
menempel. Tas itu terletak di atas meja tulis. Dia mengambil kunci tas itu dan
menyuruh saya untuk memeriksanya. Tapi saya tidak melihat sesuatu yang aneh.
Kunci itu kunci Yale yang biasa saja. Pada kepalanya terdapat sebuah kawat kecil
yang agak bengkok.
Kemudian dia memeriksa kerangka pintu yang kami dobrak sambil mencek apakah
kuncinya benar-benar mengunci. Kemudian dia pergi ke pintu yang menuju kamar
Cynthia. Pintu itu juga terkunci, seperti telah saya ceritakan. Tetapi dia membuka
kunci pintu itu dan menutupnya lagi.
Dia lakukan hal itu beberapa kali dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan
suara. Tiba-tiba sesuatu pada gerendel kunci itu mengalihkan perhatiannya. Dia
memeriksanya dengan hati-hati, kemudian dia mengambil penjepit dari tasnya dan
menjepit sebuah benda yang amat kecil yang dengan hati-hati dimasukkannya kc
dalam sebuah amplop kecil.
Di atas sebuah lemari berlaci ada sebuah nampan dengan lampu minyak dan sebuah
panci kecil di atasnya. Dalam panci itu terdapat cairan hitam, dan sebuah cangkir
yang telah kosong bekas diminum berdiri di dekatnya.
Saya merasa kesal pada diri saya sendiri karena saya tidak teliti dan baru melihat
benda-benda tersebut saat itu. Ini pasti merupakan petunjuk yang amat penting. Poirot
mencelupkan sebuah jarinya ke dalam panci kecil dan mencicipnya sedikit dengan
agak takut-takut. Dia menyeringai.
"Coklat—campur—kelihatannya—rum."
Dia melewati pecahan barang-barang di lantai, di dekat meja yang terguling tadi.
Lampu baca, buku-buku, korek api, serenceng kunci, dan pecahan cangkir kopi
terserak di situ.
"Ah, ini mencurigakan," katanya.
'Terus terang saja aku tidak berpikir ada yang mencurigakan di sini."
"Tidak? Coba perhatikan. Lampu baca ini— semprongnya pecah; pecahannya
berserakan di situ waktu benda itu jatuh. Tapi lihat, cangkir kopi ini remuk menjadi
bubuk."
"Ah," kata saya capek. "Pasti ada orang yang menginjaknya."
"Tepat," kata Poirot dengan suara aneh. "Seseorang telah menginjaknya."
Dia berdiri, kemudian berjalan ke perapian. Dia memegang-megang benda pajangan
yang ada di atas perapian itu sambil merenung.
"Mon ami" katanya, "orang itu menginjak cangkir kopi sampai remuk karena cangkir
itu mengandung strychnine—atau—yang lebih gawat lagi—karena cangkir itu tidak
mengandung strychnine!"
Saya hanya diam. Saya bingung tapi saya tahu tak ada gunanya meminta dia supaya
menerang¬kannya. Sesaat kemudian dia bergerak lagi dan melanjutkan
penyelidikannya. Dia mengambil rencengan kunci itu dari lantai dan mengamatinya.
Dipilihnya sebuah yang masih baru dan dimasuk¬kannya ke lubang kunci tas
berwarna ungu itu.
Ternyata cocok. Dia membuka tas itu. Tetapi setelah ragu-ragu sejenak dia menutup
dan menguncinya kembali. Dia memasukkan renceng¬an kunci dan kunci tas itu
sendiri ke dalam sakunya.
"Aku tak punya hak untuk membuka-buka dokumen ini. Tapi harus dibuka juga—
suatu saat!"
Kemudian dia memeriksa laci bak cuci dengan sangat hati-hati. Di dekat jendela
sebelah kiri setitik noda di atas karpet berwarna coklat yang menarik perhatiannya.
Dia berjongkok dan memeriksanya dengan teliti—bahkan mencium noda itu.
Akhirnya dia memasukkan beberapa tetes coklat ke dalam tabung kecil dan
menutupnya dengan hati-hati. Kemudian dia mengeluarkan catatan kecilnya.
"Kita temukan dalam kamar ini," katanya sambil menulis "enam hal yang menarik.
Perlu aku sebutkan—atau kau yang akan menyebutkan?"
"Oh, kau saja," kata saya cepat-cepat.
"Baik kalau begitu! Satu, sebuah cangkir kopi yang hancur-lebur; dua, sebuah tas
kecil dengan kuncinya; tiga, noda di atas lantai."
"Mungkin juga noda itu sudah lama di situ," sela saya.
"Tidak, karena masih lembab dan berbau kopi. Empat, secarik kain berwarna hijau
tuai—hanya terdiri dari dust—tiga helai benang, tapi jelas kelihatan."
"Ah!" seru saya. "Itu yang kaumasukkan ke dalam amplop, bukan?"
"Ya. Barangkali cuma sobekan baju Nyonya Inglethorp sendiri dan tidak berarti apaapa.
Tapi kita lihat saja. Kelima, ini\" Dengan gerakan dramatis dia menunjuk ke
tetesan lilin di atas lantai di dekat meja tulis. "Pasti terjadi kemarin, karena pembantu
akan membersihkannya kalau sudah ada di situ sebelumnya."
"Bisa jadi tadi malam. Kami semua sangat bingung. Atau mungkin Nyonya Inglethorp
sendiri yang membuat tetesan itu."
"Kalian hanya membawa sebuah lilin waktu masuk kamar?"
"Ya, Lawrence Cavendish yang membawanya. Tapi dia sangat bingung dan kacau.
Dia seolah-olah melihat sesuatu di situ yang membuat¬nya lumpuh," kata saya sambil
menunjuk perapian.
"Menarik sekali," kata Poirot dengan cepat. "Ya, agak mencurigakan—" Matanya
memandang ke seluruh bagian dinding— "tapi ini bukan tetesan lilinnya, karena lilin
ini putih, sedang lilin Tuan Lawrence yang masih terletak di meja rias itu berwarna
merah muda. Sebaliknya, Nyonya Inglethorp tidak punya tempat lilin karena tidak
memakai lilin. Dia memakai lampu baca."
"Lalu apa kesimpulanmu?" tanya saya.
Kawan saya hanya memberikan jawaban yang menyebalkan karena dia menyuruh
saya berpikir sendiri.
"Dan yang keenam? Apa contoh coklat itu?" tanya saya.
"Bukan," jawab Poirot sambil berpikir-pikir. "Sebenarnya aku mau memasukkannya
pada daftar keenam, tapi tak jadi. Hal yang keenam aku simpan saja dulu."
Dia memperhatikan kamar itu dari ujung ke ujung dengan cepat. "Rasanya tak ada
lagi yang bisa kita lakukan di sini, kecuali—"Dia memper¬hatikan abu yang ada di
tungku perapian. "Api itu menyala—dan membakar. Tapi barangkali—coba kita
lihat."
Dengan cekatan dan sangat hati-hati tangannya mengorek abu di perapian. Tiba-tiba
dia berseru, "Penjepit, Hastings!"
Dengan cepat saya ulurkan benda yang dimintanya. Dia mengambil sepotong kecil
kertas yang hampir gosong.
"Nah, mon amil" katanya. "Apa pendapatmu?"
Saya memperhatikan dengan teliti. Inilah reproduksinya:

Saya bingung. Kertas itu tebal, tidak seperti kertas biasa. Tiba-tiba saya berseru,
"Poirot! Ini kan potongan surat wasiat!" "Memang."
Saya memandangnya dengan tajam.
"Kau tidak heran?"
"Tidak. Aku memang mengharapkannya," katanya dengan sedih.
Saya melepaskan kertas itu dan Poirot me¬nyimpannya dengan hati-hati dan sangat
rapi di dalam tasnya. Pikiran saya berputar. Apa yang terjadi dengan surat wasiat ini?
Siapa yang membakarnya? Orang yang meneteskan lilin di lantai? Kelihatannya
begitu. Tapi bagaimana dia bisa masuk? Semua pintu terkunci dari dalam.
"Sekarang kita pergi dari sini," kata Poirot cepat. "Aku ingin menanyai pelayan
kamar— Dorcas ya, namanya?"
Kami masuk ke kamar Alfred Inglethorp, dan Poirot berhenti untuk menelitinya.
Kami keluar dari kamar Alfred dan mengunci kembali pintunya serta pintu kamar
Nyonya Inglethorp.
Kami turun dan masuk ke ruang kerja Nyonya Inglethorp karena Poirot ingin
melihatnya. Kemudian saya keluar mencari Dorcas.
Ketika saya kembali dengan Dorcas, ruangan itu kosong.
"Poirot, di mana kau?" seru saya. "Aku di sini."
Rupanya dia berada di luar, di teras, berdiri menikmati dan mengagumi kebun bunga
di luar.
"Mengagumkan!" katanya. "Sangat me¬ngagumkan. Begitu simetris! Lihat
lengkungan itu, dan bentuk wajik itu—rapi sekali. Jaraknya juga sempurna."
"Ya. Kelihatannya mereka mengerjakannya kemarin sore. Tapi masuklah—Dorcas
ada disini."
"Eh bien, eh bierj\ Jangan mengganggu, aku sedang menikmati pemandangan indah
ini."
"Ya, tapi kejadian ini kan lebih penting."
"Apa kau yakin bahwa begonia yang indah itu tidak sama pentingnya?"
Saya hanya mengangkat bahu. Tak ada gunanya berargumentasi dengan dia kalau
pandangannya sudah begitu.
"Kau tidak setuju? Tapi hal-hal semacam itu pernah terjadi. Baiklah, aku akan bicara
dengan Dorcas yang tabah itu."
Dorcas berdiri di kamar kerja itu. Tangannya dilipat di depan. Rambut abu-abunya
berombak kaku di bawah topi putihnya. Dia memang merupakan model dan gambaran
yang tepat dari seorang pelayan yang kuno.
Sikapnya terhadap Poirot cenderung curiga, tetapi dengan cepat Poirot mematahkan
sikap itu. Dia mendorong sebuah kursi.
"Silakan duduk, Nona."
"Terima kasih, Tuan."
"Kau telah lama bekerja di sini, bukan?"
"Sepuluh tahun, Tuan."
"Wah, sudah lama sekati. Kau benar-benar setia. Tentunya kau dekat dengan Nyonya,
ya?"
"Beliau sangat baik, Tuan."
"Kalau begitu kau tak akan keberatan menjawab beberapa pertanyaan. Aku
mengajukan pertanya¬an-pertanyaan ini dengan izin Tuan Cavendish,"
"Oh, tentu, Tuan,"
"Baik. Aku akan mulai dengan kejadian kemarin. Apa Nyonya Inglethorp
bertengkar?"
"Ya, Tuan, Tapi saya tak tahu apakah saya—" Dorcas ragu-ragu,
Poirot memandangnya dengan tajam.
"Dorcas, aku perlu mengetahui semuanya secara mendetil. Jangan berpikir bahwa kau
mengkhia¬nati nyonyamu. Beliau sekarang telah meninggal, dan kita perlu
mengetahui segalanya kalau kita mau menuntut bela untuknya. Memang tak akan ada
sesuatu yang bisa membuatnya hidup kembali, tapi seandainya ada hal-hal yang tidak
beres, kita perlu tahu siapa pelakunya."
"Mudah-mudahan," kata Dorcas tegas. "Dan tanpa menyebut nama, memang ada
seseorang di rumah ini yang tidak disukai siapa pun di sini! Dan sejak kedatangannya
tak ada hal yang beres di sini."
Poirot dengan sabar menunggu sampai rasa marah Dorcas berkurang. Kemudian
dengan tegas dia berkata,
"Dan tentang pertengkaran itu? Apa yang kaudengar pertama kali?"
"Kebetulan kemarin sore—saya berada di koridor—"
"Jam berapa itu?"
"Saya tak ingat tepatnya, Tuan. Tapi tidak lama sebelumwaktu minum teh. Barangkali
jam empat. Atau lebih. Saya kebetulan lewat ruangan ini kemarin dan saya mendengar
suara keras dan ribut di sini. Saya tak bermaksud mendengarkan pembicaraan itu,
tapi—saya berhenti. Pintu itu tertutup. Tapi Nyonya bicara dengan suara keras dan
nyaring. Saya bisa mendengar dengan jelas suaranya, 'Kau membohongiku dan
menipuku.' Saya tak mendengar jawaban Tuan Inglethorp karena dia bicara dengan
suara rendah. Kemudian
Nyonya berkata lagi, 'Kau memang keterlaluan. Sudah dihidupi, diberi makan dan
pakaian, tapi apa balasmu? Membuat aku malu!' Saya tidak mendengar apa yang
dikatakan Tuan Inglethorp. Tapi Nyonya melanjutkan, Tak ada gunanya apa yang
kaukatakan itu. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah menentukan sikap.
Aku tak peduli dengan publisitas apa pun yang akan tersebar karena skandal suamiistri
ini.' Saya cepat-cepat pergi karena kelihatannya mereka akan keluar."
"Kau yakin bahwa yang kaudengar itu adalah suara Tuan Inglethorp?"
"Oh ya, Tuan. Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Lalu apa yang terjadi kemudian?"
"Beberapa saat kemudian saya kembali ke koridor itu, tapi suasana sepi sekali. Jam
lima Nyonya Inglethrop membunyikan bel dan me¬nyuruh saya membawa secangkir
teh—tanpa kue—ke kamar kerja beliau. Wajahnya sangat mencemaskan—pucat dan
gelisah. 'Dorcas,' kata¬nya, 'ada hal yang mengejutkanku.' 'Sebaiknya Nyonya minum
secangkir teh panas dulu. Supaya merasa enak.' Tangan Nyonya memegang sesuatu.
Saya tak tahu apakah itu surat atau selembar kertas biasa, tapi ada tulisannya, dan
Nyonya meman¬dang kertas itu terus-menerus, seolah-olah tak percaya dengan apa
yang tertulis di situ. Nyonya berbisik sendiri seolah-olah lupa bahwa saya ada di situ.
'Kata-kata ini—semuanya berubah.' Dan kemudian beliau berkata pada saya, 'Jangan
percaya pada lelaki, Dorcas. Tak ada gunanya!' Saya cepat-cepat keluar, mengambil
secangkir teh kental. Nyonya berterima kasih dan berkata bahwa Nyonya akan merasa
lebih enak setelah minum teh itu. 'Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan,' katanya.
'Skandal antara suami-istri sangat mengerikan,
Dorcas. Rasanya aku lebih suka menutupinya kalau bisa.' Kemudian Nyonya
Cavendish masuk, jadi Nyonya tidak bicara apa-apa lagi."
"Apa surat atau kertas itu masih dipegangnya?"
"Ya, Tuan."
"Kira-kira apa yang akan dilakukannya dengan
kertas itu?"
"Saya tak tahu, Tuan. Saya rasa Nyonya akan menyimpannya dalam tas ungunya."
"Apakah beliau biasanya menyimpan surat-surat penting di situ?"
"Ya, Tuan. Beliau biasanya membawa turun tas itu kalau pagi, dan membawanya ke
atas kalau malam."
"Kapan kunci tas itu hilang?"
"Kunci itu hilang kemarin pada waktu makan siang, Tuan, dan Nyonya menyuruh
saya agar menjaganya dengan hati-hati. Beliau sangat bingung."
"Tapi beliau punya kunci duplikat, kan?" "Oh, ya, Tuan."
Dorcas memandang Poirot dengan curiga. Saya pun sebenarnya ingin tahu. Kenapa
dia menanya¬kan kunci yang hilang itu? Poirot tersenyum.
"Jangan kuatir, Dorcas. Pekerjaanku mengha¬ruskan aku untuk mengetahui banyak
hal. Apakah kunci ini yang hilang?" Dia mengeluarkan kunci yang ditemukannya di
tas ungu itu dari sakunya.
Mata Dorcas seolah-olah akan copot.
"Benar, Tuan. Memang itu kuncinya. Tuan dapat dari mana? Saya sudah mencarinya
di mana-mana."
"Tapi kunci itu tidak di tempat yang sama seperti kemarin pada waktu kutemukan.
Nah, aku ingin bertanya lagi. Apa Nyonya punya baju berwarna hijau tua?"
Dorcas agak terkejut dengan pertanyaan yang tak terduga itu. "Tidak, Tuan." "Kau
yakin?" "Ya, Tuan."
"Apa ada seseorang di rumah ini yang punya gaun berwarna hijau?" Dorcas
mengingat-ingat.
"Nona Cynthia punya gaun malam berwarna hijau."
"Hijau muda atau tua?"
"Hijau muda, Tuan. Dari sifon."
"Ah, itu bukan yang aku maksud. Tak ada lagi yang punya gaun hijau?"
"Tidak, Tuan—setahu saya tidak." Wajah Poirot tidak menunjukkan perasaannya. Dia
hanva berkata,
"Baik, Kita teruskan dengan hal yang lain. Apa kau tahu bahwa Nvonva makan bubuk
obat tidur tadi malam?"
"Bukan tadi malam, Tuan. Saya tahu benar." "Bagaimana kamu bisa yakin?" "Karena
tempatnya kosong.
Terakhir kali beliau makan dua hari vang lalu, dan belum membeli ( lagi"Kau yakin
akan hal itu?" "Yakin sekali."
"Baiklah. Apa Nyonya menyuruhmu menanda¬tangani sesuatu kemarin?"
"Menandatangan? Tidak, Tuan." "Ketika Tuan Hastings djn Tuan Lawrence datang
kemarin malam, Nyonya sedang sibuk menulis surat. Apa kau tahu kepada siapa saja
surat itu ditujukan?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Kemarin malam saya keluar. Barangkali Annie bisa memberi
tahu. Tapi dia agak ceroboh. Tidak membersihkan cangkir-cangkir kopi tadi malam.
Selalu begitu kalau tak ada saya.-Tak ada yang beres." Poirot mengangkat tangannya.
"Karena belum dibersihkan, biarkan dulu cangkir-cangkir itu, Dorcas. Aku ingin
meme¬riksanya." "Baik, Tuan."
"Jam berapa kau keluar kemarin malam?" "Kira-kira jam enam, Tuan." "Terima kasih,
Dorcas. Itu dulu pertanyaan¬ku." Dia berdiri dan mondar-mandir di dekat jendela.
"Aku mengagumi kebun bunga itu. Berapa tukang kebun yang bekerja di sini?"
"Hanya tiga, Tuan. Ada lima sebelum perang. Ketika rumah ini masih dipelihara
dengan b?*1 seperti seharusnya rumah orang yang terhorm Seandainya Tuan bisa
melihat saat itu—ah, indi sekali. Tapi sekarang hanya ada Pak Tua Manning dan si
William, dan seorang tukang kebun wanita yang modern dan memakai celana
panjang. Ah, ini memang bukan masa yang menyenangkan!"
"Masa yang menyenangkan akan datang lagi, Dorcas. Setidak-tidaknya kita harapkan
demikian. Coba sekarang tolong panggilkan Annie."
"Ya, Tuan. Terima kasih, Tuan."
"Bagaimana kau tahu bahwa Nyonya Ingle¬thorp makan bubuk obat tidur?" tanya
saya ingin tahu ketika Dorcas telah keluar. "Dan tentang kunci yang hilang dan
duplikatnya?"
"Satu per satu kalau bertanya. Tentang obat itu aku tahu dari ini." Tiba-tiba dia
mengeluarkan sebuah dos kecil yang biasa di pakai di toko-toko obat.
"Dari mana benda itu?"
"Dari laci bak cuci dalam kamar Nyonya Inglethorp. Ini adalah benda keenam yang
kutemukan di sana."
"Tapt tidak penting lagi, kari? Isinya sudah habis dua hari yang lalu."
"Barangkali tidak. Tapi apakah kau melihat sesuatu yang aneh pada kotak ini?"
Saya memeriksanya.
'Rasanya tidak ada." "Lihatlah labelnya." Saya membaca label itu dengan teliti, " 'Satu
bungkus sebelum tidur, kalau perlu. Nyonya Inglethorp'. Tak ada yang aneh," kata
saya. 'Tidak aneh kalau tak ada nama tokonya?" "Ah! Ya, benar!"
"Kau sudah pernah melihat seorang ahli obat yang mengeluarkan obat tanpa
membubuhkan nama tokonya?"
"Belum"
Saya jadi bersemangat. Tetapi Poirot meredakan perasaan saya dengan berkata,
"Penjelasannya sederhana saja. Jangan berpikir terlalu jauh."
Suara langkah Annie terdengar mendekat. Jadi saya tak berkata apa-apa.
Annie adalah seorang gadis yang manis. Kelihatannya dia justru menikmati
kegemparan karena tragedi yang terjadi di dekatnya.
Poirot menanyainya dengan tegas tanpa mem¬buang waktu.
"Kau kupanggil karena mungkin kau bisa memberi tahu aku tentang surat-surat yang
ditulis Nyonya Inglethorp kemarin malam. Ada berapa surat dan tahukah kau namanama
dan alamat penerimanya?" Annie berpikir.
"Ada empat surat, Tuan, Satu untuk Nona Howard, dan satu untuk Tuan Wells,
pengacara Nyonya. Dua surat yang lain tidak saya ingat—oh ya, satu untuk Ross's,
pemilik katering di Tadminster, yang satu lagi saya tidak ingat."
"Coba diingat-ingat dolu," desak Poirot.
Annie mencoba berpikir keras.
"Maafkan, Tuan. Saya tidak ingat. Saya rasa saya tidak membacanya."
"Baiklah, tak apa-apa," kata Poirot tanpa menunjukkan kekecewaannya. "Aku ingin
mena¬nyakan hal lainnya. Ada sebuah panci kecil di kamar Nyonya Inglethorp yang
berisi coklat. Apa dia biasa minum coklat setiap malam?"
"Ya, Tuan. Kami selalu menyediakannya di kamar setiap malam. Nyonya akan
menghangat¬kan sendiri kalau ingin minum."
"Apa isi panci itu? Coklat saja?"
"Ya, Tuan, Dicampur dengan susu, satu sendok teh gula, dan dua sendok teh rum."
"Siapa yang membawanya ke kamar?
"Saya, Tuan."
"Selalu?"
"Ya, Tuan."
"Jam berapa?"
"Kfra-kira saat saya masuk untuk menutup gorden."
"Apa kau selalu membawanya langsung dari dapur?"
"Tidak Tuan. Kompor tidak cukup banyak, J ad i juru masak membuatnya dulu
sebelum masak sayur untuk makan malam. Lalu saya membawa¬nya ke atas dan
meletakkannya di atas meja di dekat pintu ayun untuk sementara. Saya membawanya
masuk kemudian."
"Pintu ayun itu ada di bagian kiri rumah, kan?"
"Betul, Tuan."
"Dan meja itu, apa ada di sebelah sini, atau di sebelah sana, dekat ruang pelayan?"
"Di sebelah sini, Tuan."
"Jam berapa kau membawanya ke atas tadi malam?"
"Kira-kira jam tujuh seperempat, Tuan."
"Dan jam berapa kau membawanya masuk?"
"Kira-kira jam delapan. Nyonya Inglethorp sudah siap akan tidur sebelum saya selesai
menutup gorden."
"Jadi, kalau begitu coklat itu ada di meja di sayap kiri antara jam tujuh seperempat
sampai jam delapan?"
"Ya, Tuan." Wajah Annie bertambah merah. Tiba-tiba tanpa diduga dia berkata,
"Dan kalau di dalamnya ada garam, bukan saya yang menaruhnya. Saya tak pernah
meletakkan garam itu di dekatnya."
"Kenapa kau mengatakan ada garam di dalamnya?" tanya Poirot.
"Karena saya melihatnya di nampan, Tuan."
"Kau melihat garam di nampan?"
"Ya. Garam dapur yang kasar kelihatannya. Saya tidak melihatnya ketika membawa
nampan itu ke atas, tapi ketika membawanya masuk ke kamar Nyonya, baru saya
melihatnya. Seharusnya saya membawanya turun dan minta juru masak
membuatkan lagi. Tapi saya terburu-buru sebab Dorcas tidak ada. Saya pikir coklat
itu tidak apa-apa dan garam itu hanya mengotori nampan saja. J adi saya bersihkan
garam itu dengan celemek saya."
Hampir saja saya tak bisa mengendalikan emosi. Tanpa dia sadari, Annie telah
memberikan sebuah bukti yang amat penting. Dia pasti terkejut kalau tahu bahwa
'garam dapur kasar'nya itu adalah strychnine, salah satu racun paling berbahaya. Saya
memandang Poirot yang kelihatan tenang-tenang saja. Kontrol dirinya memang luar
biasa. Saya menunggu pertanyaannya yang berikut dengan tidak sabar. Tapi saya
kecewa setelah mendengarnya.
"Ketika kamu masuk kamar Nyonya Ingle¬thorp, apa pintu yang menghubungkan
kamar Nona Cynthia terkunci?"
"Oh! Ya, Tuan; selalu. Pintu itu tak pernah dibuka."
"Dan pintu ke kamar Tuan Inglethorp? Apa kau melihat pintu itu dikunci?" Annie
ragu-ragu.
"Saya tak bisa mengatakannya, Tuan; pintu itu ditutup tapi saya tidak tahu apakah
dikunci atau tidak."
"Ketika kamu keluar dari kamar, apakah Nyonya Inglethorp langsung mengunci
pintunya?"
"Tidak, Tuan. Tapi Nyonya pasti menguncinya kemudian. Biasanya beliau mengunci
pintu itu pada malam hari. Maksud saya, pintu yang kc koridor."
"Apa kau melihat bekas tetesan lilin pada waktu membersihkan kamar kemarin?"
'Tetesan lilin? Oh, tidak Tuan. Nyonya Inglethorp tak punya lilin. Beliau memakai
lampu baca."
"Kalau begitu, seandainya ada tetesan lilin di atas lantai, kau pasti melihatnya?"
"Ya, Tuan. Dan pasti akan saya bersihkan."
Lalu Poirot mengulangi pertanyaan yang tadi ia tujukan pada Dorcas,
"Apakah Nyonya punya gaun berwarna hijau?"
'Tidak, Tuan."
"Atau mantel atau baju hangat?" "Tak ada yang hijau, Tuan." "Mungkin orang lain di
rumah ini?" Annie berpikir. 'Tidak, Tuan." "Kau yakin?" "Sangat yakin."
"Bien! Itu saja yang ingin kuketahui. Terima kasih."
Dengan agak gugup Annie keluar. Emosi saya meledak.
"Poirot," seru saya. "Selamat! Benar-benar penemuan besar."
"Penemuan besar apa?*'
"Bahwa coklatnya, dan bukan kopinya yang diracuni. Pantas! Tentu saja pengaruhnya
baru kelihatan di pagi hari, karena coklatnya baru diminum sekitar tengah malam."
"Jadi kau berpikir bahwa coklat itu—perhatikan kata-kataku, Hastings—cokat itu
yang mengan¬dung racun?"
"Tentu saja! Garam di nampan itu, apa lagi kalau bukan strychnine?"
"Barangkali juga memang garam," kata Poirot tenang.
Saya hanya mengangkat bahu. kalau dia sudah berpendapat begitu, tak ada gunanya
berdebat dengan dia. Pikiran bahwa Poirot tua itu memang bertambah tua, berkali-kali
muncul di kepala saya. Dan diam-diam saya berpikir dia beruntung karena bisa
bertukar pikiran dengan orang-orang yang bisa menerima idenya dengan baik.
Poirot memandang saya dengan mata bersinar.
"Kau tidak senang denganku, rnon ami}"
"Poirot, aku kan tidak mendiktemu. Kau dan aku sama-sama punya hak untuk
berpendapat."
"Pendapat yang bagus," katanya. "Aku sudah selesai dengan ruangan ini. Meja kecil
itu meja siapa?"
"Tuan Inglethorp."
"Ah!" Dia mencoba membuka tutupnya. 'Terkunci. Tapi barangkali salah satu kunci
Nyonya Inglethorp bisa dipakai." Dia mencoba beberapa kunci dengan cekatan.
Akhirnya dia berseru dengan keras, "Voila! Bukan kunci. Meja ini akan membuka
kalau ditekan." Dia membuka meja itu dan tangannya yang cekatan membuka¬buka
dokumen yang tertumpuk rapi. Saya heran karena Poirot tidak memeriksa dokumendoku
¬men itu,
tetapi hanya berkata, "Tuan Inglethorp memang orang yang punya metode."
Dalam kamus Poirot, 'orang yang punya metode' merupakan pujian yang paling tinggi
bagi seseorang.
Sekali lagi saya merasa bahwa Poirot yang sekarang bukanlah Poirot yang dulu ketika
dia bergumam sendiri,
"Tidak ada perangko di meja ini. Tapi barangkali sebelumnya ada, eh, mon ami}
Mungkin sebelumnya ada. Ya," Matanya meman¬dang berkeliling ruangan— "tak
ada lagi yang bisa diceritakan oleh ruangan ini kepada kita. Kecuali ini.
Dia mengeluarkan segumpal amplop dari sakunya dan mencoba meluruskannya
sambil menyodorkannya kepada saya. Amplop itu agak aneh. Amplop biasa yang
kelihatan kotor dengan kata-kata yang tertulis tidak keruan seperti ini:


Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://b1t4-daniyaputri.blogspot.com/
 

Agatha Christie MISTERI DI STYLES (chap.4)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Hello I am Christine of Reborn Styles by Christine
» MISTERI DI BALIK SHOLAT DZUHUR YANG TERUNGKAP
» [video] menguak misteri di balik robohnya WTC
» Al Qur'an menjawab misteri di balik utuhnya jasad Firaun pengejar Musa yang tenggelam di laut selama ribuan tahun
» Iraq out of Chapter VII and moves on to the sixth and Kuwait happy editing restrictions

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
DETECTIVE AND MAFIA :: DAM Office :: Library :: Story of Detective-