DETECTIVE AND MAFIA
Silakan mendaftar atau masuk untuk mengakses forum Detective and Mafia.


-Terima Kasih-

DETECTIVE AND MAFIA

Mens Vincit Omnia
 
IndeksIndexGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Selamat datang di forum Detective and Mafia, silakan perkenalkan diri
di Perkenalan member baru agar resmi menjadi member Detective and Mafia
Selamat datang di DAM
Silakan baca petunjuk, peraturan dan tata cara bermain forum
Di sini sebelum melakukan aktivitas di forum

Share | .
 

 A Case of Jealousy

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2
PengirimMessage
Clear.U

Newbie
Newbie


Female
Age : 19
Reputation : 0
Jumlah posting : 19

PostSubyek: A Case of Jealousy   Thu Jul 04, 2013 6:17 pm

First topic message reminder :

ini case pertama saya. mohon dimaklumi kalau terlalu panjang dan gaje...

Malam itu hujan lebat, pukul 9 malam, di kafe kecil di sudut kota, bisa kita lihat 4 orang sedang berbincang-bincang di meja yang agak tersembunyi dari pandangan. Mereka adalah 4 sekawan yang dulunya satu SMA, dan sekarang, bias dibilang mereka sedang reuni.
Mereka terdiri dari :

A-ya : Novelist, dengan genre specialist Horror, 23 tahun.
B-ko : Model, merangkap aktris, 23 tahun
C-ta : Computer Designer, 23 tahun
D-ne : Pengacara, 23 tahun.

Selagi mereka berbicara, A-ya terlihat sering sekali  mengetik sesuatu di handphonenya. Saking penasarannya, C-ta pun menanyakan hal tersebut pada A-ya.

“A-ya~ ngapain sih, dari tadi? Ngeliatin Handphone mulu’.“
“iya nih, ngerusak suasana aja.” Ucap B-ko nimbrung
“jangan-jangan sms dari gebetan ya? Atau malah dari pacar?” kembali C-ta bertanya pada pemuda di hadapannya.
“bukan… aku cuma mencatat ide yang ada di kepalaku kok, biar ga lupa. Jadi nanti bisa langsung kuketik pas pulang.” Jawab A-ya.
“Duuh, yang novelnya jadi best seller… Rajin banget.” Goda B-ko
“Ck, apaan sih… lagian , kalian berdua kan sudah tahu kebiasaanku, nagapain tanya-tanya lagi? Jangan-jangan… cemburu ya?” balas A-ya
“E-enak saja! Aku ini masih waras tau!” seru C-ta. Sedangkan B-ko, gadis cantik itu hanya blushing berat dan terdiam, soalnya yang dikatakan A-ya itu 120% benar. Sayang, A-ya bukanlah orang yang peka. Sementara itu, D-ne hanya diam saja. Bola mata birunya bolak-balik menatap B-ko yang ada di seberangnya dan A-ya yang ada di sebelah kanannya. Nampaknya gadis pintar itu menyadari arti dari tingkah laku B-ko.

“fufufufu, rasanya seperti kembali ke masa SMA ya.” Ujar D-ne.
“benar juga. Hehe, jadi ingat, waktu SMA dulu D-ne-chan suka sekali menempeli B-ko-chan” kekeh C-ta.
“memangnya salah? Aku melakukannya karena aku suka B-ko!” balas D-ne dengan tampang polos.
“uwaa… B-ko-chan, dapat direct attack tuh!”
“Apaan sih! Lagian, waktu SMA dulu kau juga sering mengekori A-ya, sampai di kira Homo!”
“U-urusai!” gugup C-ta membalas.

A-ya terlihat kembali asyik dengan handphonenya, membuat kesal teman-temannya.

“Mou, A-ya! Simpan dulu handphone mu! Jarang-jarang’kan, kita bisa kumpul kayak gini!” Gerutu B-ko.
“oke, oke…” A-ya pun menyimpan Handphonenya sambil menyeringai sarkastik, ekspresi yang sering di pakai pemuda satu ini.

PET!

Gelap bin mati lampu. Empat sekawan itu terdiam selama 10 menit. Mereka semua minus B-ko memang bukan tipe orang yang histeris atau alay yang bakalan teriak waktu mati lampu. Kalu B-ko, dia saking kaget dan takutnya, langsung stiff, membatu di tempat. D-ne yang mengetahui kebiasaan temannya ini langsung menenangkan B-ko. Sementara itu, terdengar siulan dari arah tempat duduk C-ta.

“ADUH!” B-ko mengaduh ketika ia merasakan sesuatu menendang kakinya.
“Ups, sori B-ko. Kena kakimu toh.” Gumam C-ta.

PET!

Nyala. B-ko langsung menghela nafas lega, sampai…
“KYAAAAAA!!” B-ko langsung menjerit nyaring saat melihat A-ya yang ada di sebelah kirinya jelas sudah tak bernyawa dengan sebuah pisau menancap di dadanya, bagian kiri (maksudnya tembus jantung).

D-ne pingsan di tempat, dan C-ta langsung mendekati sahabatnya itu dan mengetes denyut nadinya, tapi percuma, A-ya sudah meninggal. C-ta segera meminta Mater Café yang kebetulan adalah kenalannya untuk menelepon polisi dan Ambulans. Sayang, akibat hujan yang semakin lebat, terjadi longsor yang mengakibatkan polisi dan ambulans tidak bisa datang segera.
Saat itu, hanya ada seorang tamu selain 4 sekawan dan master café dan seorang pelayan.

“maaf kalau aku ikut campur, tapi ada yang ingin kutanyakan pada kalian…” gumam seorang gadis berambut panjang, satu-satunya tamu yang ada di café selain mereka. *D-ne udah sadar.

Saat itu, C-ta sedang menurunkan mayat A-ya dan menutupi wajahnya dengan jas yang tadi ia pakai. Sontak ia menoleh kepada gadis itu. “a-apa maumu?”

“…namaku IA, ini pekerjaanku.” Jawab gadis itu sambil memberikan kartu namanya. Di situ tertulis kalau ia adalah seorang detektif, dan dari capnya, dia diakui oleh kepolisian.
“Kau detektif?” Sangsi C-ta. Gadis itu hanya mengangguk.
“kemungkinan besar teman kalian terbunuh, jadi izinkan aku bertanya pada kalian, karena bisa dibilang, kalian bertigalah tersangka dalam kasus ini.” sambungnya lagi. 3 orang itu hanya terdiam, membuat IA otomatis menyimpulkan reaksi mereka sebagai ‘Iya’. ia pun mulai menginterogasi 3 orang tsb.

1. Jadi kalian teman satu SMA, dan sekarang sedang reuni?
  -iya (C-ta)
2.  siapa yang mengusulkan untuk reuni? Yang mengusulkan tempat dan waktu?
    -Aku (B-ko)
3. siapa yang pertama kali datang?
    - aku (D-ne)
4. kenapa kau memilih meja ini?  
-kupikir, meskipun café ini ada di sudut kota, akan lebih baik kalau kami duduk di tempat yang tertutup, mengingat A-ya dan B-ko adalah orang terkenal. (D-ne)
5. bagaimana urutan kedatangan kalian?
   D-ne, B-ko, aku. A-ya datang paling akhir. (C-ta)
6. bisa ceritakan apa yang kalian lakukan saat mati lampu? Sebab kemungkinan besar korban terbunuh saat mati lampu.
-jujur saja, aku sangat takut gelap, saking takutnya aku membatu tadi… tapi saat mati lampu, aku bisa merasakan genggaman tangan D-ne yang mencoba menenangkanku. Setelahnya, C-ta menedang kakiku, entah sengaja atau tidak. Dan ketika lampu menyala… A-ya sudah.. (B-ko)

-Hey, aku tidak sengaja, itu kebiasaanku saat tidak ada kerjaan! Aku juga mendengar suara D-ne yang menenangkan B-ko. Saat mati lampu tadi, aku tidak melakukan apapun, hanya menunggu lampunya nyala lagi.(C-ta)

“anda punya kebiasaan menendang kaki orang saat tidak ada kerjaan?” potong IA.

-bukan menendang kaki orang, hanya terbiasa mengayunkan kaki…(C-ta)

-umm… ini giliranku kan? Saat mati lampu tadi, aku memang sedang menenangkan  B-ko, karena aku tahu kalau ia takut gelap... (D-ne)
Selanjutnya, IA menanyakan hubungan mereka saat masih SMA. *Jawaban sudah ada di bagian sebelum mati lampu.

“jadi saat SMA B-ko-san dan D-ne-san bergabung klub drama, sedangkan C-ta-san dan korban tidak ikut klub apa-apa?” Tanya IA memastikan. 3 orang itu hanya mengangguk.
Setelahnya, IA memeriksa handphone A-ya, dan menemukan sebuah memo yang belum disimpan.

Memo :
Aku tahu dia akan melakukannya saat dia mengiyakan tawaran reuni B-ko kali ini, padahal sebelumnya dia selalu menolak. Yaah… dia memang mebenciku sih.
Kalau dia memang akan melakukannya, setidaknya aku akan membuatnya menyesal…
150015, 01, 115005, 110430, 152505, 18.
Ya tuhan... aku membenci dia, dan dia membenciku. Tapi kenapa kami mirip sekali?


Setelah membaca memo tersebut, IA melirik ke arah 3 orang tersangka di sampingnya. Diamatinya mereka satu persatu. Setelah itu ia menoleh ke arah jam dinding.

“kelihatannya polisi masih akan lama...” gumamnya.
“hey, apa maksudmu!” seru C-ta kesal.
“Jealousy...” kembali IA bergumam, mebuat 3 orang di sampingnya terheran.

Kasus ini bisa di pecahkan secara logika maupun lewat kode yang ada di memo A-ya.
-siapa pembunuhnya? :
--ntuk logika, mohon di jelaskan analisis dan alasannyanya. (/Solved by Mr. M - 0,5 point)
--Untuk kode, diminta cara memecahkannya.


Terakhir diubah oleh Clear.U tanggal Fri Jul 05, 2013 10:40 am, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user

PengirimMessage
Clear.U

Newbie
Newbie


Female
Age : 19
Reputation : 0
Jumlah posting : 19

PostSubyek: Re: A Case of Jealousy   Thu Jul 04, 2013 7:26 pm

Manual kok.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Zeref

Case Maker
Case Maker
avatar

Male
Age : 16
Reputation : -4
Jumlah posting : 193
Lokasi : Mars

PostSubyek: Re: A Case of Jealousy   Thu Jul 04, 2013 7:23 pm

Chipher itu alat otomatis yang di gunakan untuk memecahkan code.
kalau mau tahu cara memakai chipher mudah saja.
klik => http://www.rumkin.com/tools/cipher/

_________________
"Jika kau bersedih dengan apa yang kau lakukan sendiri...
Jangan salahkan orang lain..
Karena itu mengandung..."
"FITNAH"

The Legend Krono List NEW!:
 



I'M Zeref The Light Mafia

Join Us Click -> [url=information-forum.indonesianforum.net]Information Forum[/url]
I'M Waiting...
By:Mr.M
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://mafiapoint.indonesianforum.net
Clear.U

Newbie
Newbie


Female
Age : 19
Reputation : 0
Jumlah posting : 19

PostSubyek: Re: A Case of Jealousy   Thu Jul 04, 2013 6:44 pm

Mau nanya untuk yang code:
-Itu code cipher atau manual?
-Berapa lapis?
-Apakah jawaban nya meragukan?

chiper itu apa???
cuma satu lapis, tapi itu mixed.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Zeref

Case Maker
Case Maker
avatar

Male
Age : 16
Reputation : -4
Jumlah posting : 193
Lokasi : Mars

PostSubyek: Re: A Case of Jealousy   Thu Jul 04, 2013 6:34 pm

Mau nanya untuk yang code:
-Itu code cipher atau manual?
-Berapa lapis?
-Apakah jawaban nya meragukan?

_________________
"Jika kau bersedih dengan apa yang kau lakukan sendiri...
Jangan salahkan orang lain..
Karena itu mengandung..."
"FITNAH"

The Legend Krono List NEW!:
 



I'M Zeref The Light Mafia

Join Us Click -> [url=information-forum.indonesianforum.net]Information Forum[/url]
I'M Waiting...
By:Mr.M
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://mafiapoint.indonesianforum.net
Clear.U

Newbie
Newbie


Female
Age : 19
Reputation : 0
Jumlah posting : 19

PostSubyek: A Case of Jealousy   Thu Jul 04, 2013 6:17 pm

ini case pertama saya. mohon dimaklumi kalau terlalu panjang dan gaje...

Malam itu hujan lebat, pukul 9 malam, di kafe kecil di sudut kota, bisa kita lihat 4 orang sedang berbincang-bincang di meja yang agak tersembunyi dari pandangan. Mereka adalah 4 sekawan yang dulunya satu SMA, dan sekarang, bias dibilang mereka sedang reuni.
Mereka terdiri dari :

A-ya : Novelist, dengan genre specialist Horror, 23 tahun.
B-ko : Model, merangkap aktris, 23 tahun
C-ta : Computer Designer, 23 tahun
D-ne : Pengacara, 23 tahun.

Selagi mereka berbicara, A-ya terlihat sering sekali  mengetik sesuatu di handphonenya. Saking penasarannya, C-ta pun menanyakan hal tersebut pada A-ya.

“A-ya~ ngapain sih, dari tadi? Ngeliatin Handphone mulu’.“
“iya nih, ngerusak suasana aja.” Ucap B-ko nimbrung
“jangan-jangan sms dari gebetan ya? Atau malah dari pacar?” kembali C-ta bertanya pada pemuda di hadapannya.
“bukan… aku cuma mencatat ide yang ada di kepalaku kok, biar ga lupa. Jadi nanti bisa langsung kuketik pas pulang.” Jawab A-ya.
“Duuh, yang novelnya jadi best seller… Rajin banget.” Goda B-ko
“Ck, apaan sih… lagian , kalian berdua kan sudah tahu kebiasaanku, nagapain tanya-tanya lagi? Jangan-jangan… cemburu ya?” balas A-ya
“E-enak saja! Aku ini masih waras tau!” seru C-ta. Sedangkan B-ko, gadis cantik itu hanya blushing berat dan terdiam, soalnya yang dikatakan A-ya itu 120% benar. Sayang, A-ya bukanlah orang yang peka. Sementara itu, D-ne hanya diam saja. Bola mata birunya bolak-balik menatap B-ko yang ada di seberangnya dan A-ya yang ada di sebelah kanannya. Nampaknya gadis pintar itu menyadari arti dari tingkah laku B-ko.

“fufufufu, rasanya seperti kembali ke masa SMA ya.” Ujar D-ne.
“benar juga. Hehe, jadi ingat, waktu SMA dulu D-ne-chan suka sekali menempeli B-ko-chan” kekeh C-ta.
“memangnya salah? Aku melakukannya karena aku suka B-ko!” balas D-ne dengan tampang polos.
“uwaa… B-ko-chan, dapat direct attack tuh!”
“Apaan sih! Lagian, waktu SMA dulu kau juga sering mengekori A-ya, sampai di kira Homo!”
“U-urusai!” gugup C-ta membalas.

A-ya terlihat kembali asyik dengan handphonenya, membuat kesal teman-temannya.

“Mou, A-ya! Simpan dulu handphone mu! Jarang-jarang’kan, kita bisa kumpul kayak gini!” Gerutu B-ko.
“oke, oke…” A-ya pun menyimpan Handphonenya sambil menyeringai sarkastik, ekspresi yang sering di pakai pemuda satu ini.

PET!

Gelap bin mati lampu. Empat sekawan itu terdiam selama 10 menit. Mereka semua minus B-ko memang bukan tipe orang yang histeris atau alay yang bakalan teriak waktu mati lampu. Kalu B-ko, dia saking kaget dan takutnya, langsung stiff, membatu di tempat. D-ne yang mengetahui kebiasaan temannya ini langsung menenangkan B-ko. Sementara itu, terdengar siulan dari arah tempat duduk C-ta.

“ADUH!” B-ko mengaduh ketika ia merasakan sesuatu menendang kakinya.
“Ups, sori B-ko. Kena kakimu toh.” Gumam C-ta.

PET!

Nyala. B-ko langsung menghela nafas lega, sampai…
“KYAAAAAA!!” B-ko langsung menjerit nyaring saat melihat A-ya yang ada di sebelah kirinya jelas sudah tak bernyawa dengan sebuah pisau menancap di dadanya, bagian kiri (maksudnya tembus jantung).

D-ne pingsan di tempat, dan C-ta langsung mendekati sahabatnya itu dan mengetes denyut nadinya, tapi percuma, A-ya sudah meninggal. C-ta segera meminta Mater Café yang kebetulan adalah kenalannya untuk menelepon polisi dan Ambulans. Sayang, akibat hujan yang semakin lebat, terjadi longsor yang mengakibatkan polisi dan ambulans tidak bisa datang segera.
Saat itu, hanya ada seorang tamu selain 4 sekawan dan master café dan seorang pelayan.

“maaf kalau aku ikut campur, tapi ada yang ingin kutanyakan pada kalian…” gumam seorang gadis berambut panjang, satu-satunya tamu yang ada di café selain mereka. *D-ne udah sadar.

Saat itu, C-ta sedang menurunkan mayat A-ya dan menutupi wajahnya dengan jas yang tadi ia pakai. Sontak ia menoleh kepada gadis itu. “a-apa maumu?”

“…namaku IA, ini pekerjaanku.” Jawab gadis itu sambil memberikan kartu namanya. Di situ tertulis kalau ia adalah seorang detektif, dan dari capnya, dia diakui oleh kepolisian.
“Kau detektif?” Sangsi C-ta. Gadis itu hanya mengangguk.
“kemungkinan besar teman kalian terbunuh, jadi izinkan aku bertanya pada kalian, karena bisa dibilang, kalian bertigalah tersangka dalam kasus ini.” sambungnya lagi. 3 orang itu hanya terdiam, membuat IA otomatis menyimpulkan reaksi mereka sebagai ‘Iya’. ia pun mulai menginterogasi 3 orang tsb.

1. Jadi kalian teman satu SMA, dan sekarang sedang reuni?
  -iya (C-ta)
2.  siapa yang mengusulkan untuk reuni? Yang mengusulkan tempat dan waktu?
    -Aku (B-ko)
3. siapa yang pertama kali datang?
    - aku (D-ne)
4. kenapa kau memilih meja ini?  
-kupikir, meskipun café ini ada di sudut kota, akan lebih baik kalau kami duduk di tempat yang tertutup, mengingat A-ya dan B-ko adalah orang terkenal. (D-ne)
5. bagaimana urutan kedatangan kalian?
   D-ne, B-ko, aku. A-ya datang paling akhir. (C-ta)
6. bisa ceritakan apa yang kalian lakukan saat mati lampu? Sebab kemungkinan besar korban terbunuh saat mati lampu.
-jujur saja, aku sangat takut gelap, saking takutnya aku membatu tadi… tapi saat mati lampu, aku bisa merasakan genggaman tangan D-ne yang mencoba menenangkanku. Setelahnya, C-ta menedang kakiku, entah sengaja atau tidak. Dan ketika lampu menyala… A-ya sudah.. (B-ko)

-Hey, aku tidak sengaja, itu kebiasaanku saat tidak ada kerjaan! Aku juga mendengar suara D-ne yang menenangkan B-ko. Saat mati lampu tadi, aku tidak melakukan apapun, hanya menunggu lampunya nyala lagi.(C-ta)

“anda punya kebiasaan menendang kaki orang saat tidak ada kerjaan?” potong IA.

-bukan menendang kaki orang, hanya terbiasa mengayunkan kaki…(C-ta)

-umm… ini giliranku kan? Saat mati lampu tadi, aku memang sedang menenangkan  B-ko, karena aku tahu kalau ia takut gelap... (D-ne)
Selanjutnya, IA menanyakan hubungan mereka saat masih SMA. *Jawaban sudah ada di bagian sebelum mati lampu.

“jadi saat SMA B-ko-san dan D-ne-san bergabung klub drama, sedangkan C-ta-san dan korban tidak ikut klub apa-apa?” Tanya IA memastikan. 3 orang itu hanya mengangguk.
Setelahnya, IA memeriksa handphone A-ya, dan menemukan sebuah memo yang belum disimpan.

Memo :
Aku tahu dia akan melakukannya saat dia mengiyakan tawaran reuni B-ko kali ini, padahal sebelumnya dia selalu menolak. Yaah… dia memang mebenciku sih.
Kalau dia memang akan melakukannya, setidaknya aku akan membuatnya menyesal…
150015, 01, 115005, 110430, 152505, 18.
Ya tuhan... aku membenci dia, dan dia membenciku. Tapi kenapa kami mirip sekali?


Setelah membaca memo tersebut, IA melirik ke arah 3 orang tersangka di sampingnya. Diamatinya mereka satu persatu. Setelah itu ia menoleh ke arah jam dinding.

“kelihatannya polisi masih akan lama...” gumamnya.
“hey, apa maksudmu!” seru C-ta kesal.
“Jealousy...” kembali IA bergumam, mebuat 3 orang di sampingnya terheran.

Kasus ini bisa di pecahkan secara logika maupun lewat kode yang ada di memo A-ya.
-siapa pembunuhnya? :
--ntuk logika, mohon di jelaskan analisis dan alasannyanya. (/Solved by Mr. M - 0,5 point)
--Untuk kode, diminta cara memecahkannya.


Terakhir diubah oleh Clear.U tanggal Fri Jul 05, 2013 10:40 am, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content





PostSubyek: Re: A Case of Jealousy   

Kembali Ke Atas Go down
 

A Case of Jealousy

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 2Pilih halaman : Previous  1, 2

 Similar topics

-
» a contractor with pending case eligible or qualify to join our bidding?
» Bidders should not have any pending case filed against the SSS????
» BAC disqualifying bidder for losing a labor case before SC
» Case Study: Negotiated Procurement in times of Calamity - Effective or Abused?
» ICAI to change exam pattern for CA Course...Case Studies to form part of Questions

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
DETECTIVE AND MAFIA :: Searching Point Zone :: Zone of Searching :: Pending Case-